14 Kabupaten Ikut Pameran Expo 2019 SMK Se-Sultra

Kendari, jurnalsumatra.com – Sebanyak 14 dari 17 kabupaten dan kota se-Sulawesi Tenggara (Sultra) minus Kabupaten Wakatobi, Buton Selatan dan Konawe Utara mengikuti pameran produk yang dihasilkan para siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuaruan (Expo-2019 SMK) yang dipusatkan di halaman SMK Negeri I Kendari.

  Plt Kadis Diknasbud Sultra, Asrun Lio yang membuka pameran expo SMK se Sultra di Kendari, Selasa, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi kepada sekolah kejuruan yang ambil bagian dalam pameran hasil karya dari anak-anak sekolah kejuruan.

  Ia pun merasa bangga bisa melihat langsung hasil karya inovasi siswa-siswi SMK dari masing-masing kabupaten dan kota.

  SMK Negeri 2 Bombana misalnya, Kadis terkesima melihat karya dan inovasi yang ditampilkan adik-adik sekolah kejuruan yakni menciptakan teknologi sederhana berupa “Smart Trash”.

  Teknologi smart trash ini adalah memudahkan seseorang untuk membuang sampah, tanpa membuka penutup tempat sampah tersebut. Prinsip kerja dari wadah sampah itu ketika seseorang mendekati tempat sampah, sensor ultra sound akan langsung mendeteksi adanya objek di depannya, maka sensor ultra sound itu akan mengirimkan sinyal ke aurduino uno yang selanjutnya memberikan perintah ke servo motor untuk membuka penutup tempat sampah.

  Sementara SMK lainnya dari Kabupaten Buton, Kota Baubau, Muna dan Muna barat menampilkan karya produk makanan dari hasil laut berupa abon ikan asin, produk makanan ringan dari rumput laut, produk kerajinan kerang-kerang dengan hasil cinderamata dan aksesoris untuk wanita, dan produk miniatur kapal-kapal nelayan yang unik dengan harga bervariasi.

  Begitu pula dengan produk unggulan yang ditampilkan siswa-siswa SMK dari Kolaka, Konawe Selatan, Konawe, Kolaka Timur berupa produk makan dari hasil pertanian dan perkebunan baik itu berupa keripik pisang, singkong maupun dari bahan baku dari sagu.

  “Dari produk anak-anak SMK ini ke depan diharapkan akan menjadi generasi emas dan hal ini perlu dukungan terutama dari dunia usaha dan pihak perbankan untuk melakukan kerjasama agar inovasi yang luar biasa ini terus dikembangkan,” kata Asrun Lio.

  Asrun Lio juga mengingatkan bahwa produk yang dihasilkan harus mendapat pengakuan dari instansi teknis, sehingga tidak ada lagi keraguan konsumen saat produk dan hasil karya itu masuk di pasaran.

  “Kalau yang dihasilkan itu berupa produk makanan atau minuman, maka tentu harus ada izin label dari Balai POM. Sebab tidak semua produk karya bisa langsung dilempar di pasaran tetapi harus mendapat persetujuan dan pengawasan dari lembaga teknis tersebut,” ujarnya.

  Selama ini kata Kadisdikbud, kelemahan produk lokal dengan produk dari luar daerah adalah mereka lebih bagus kemasannya, tetapi isinya mungkin lebih baik kita sehingga itu harus lebih diperhatikan.

  Usai membuka expo SMK, Kadis Diknasbud yang didampingi Kepala SMK Negeri I Kendari, Ali Koua dan sejumlah pejabat diknas provinsi, juga menyaksikan penandatangan kerjasama MoU dengan salah satu perbankan dan kalangan dunia usaha untuk bekerjasama dengan pihak sekolah dalam hal memberi peluang bagi para lulusan SMK yang dinilai berprestasi untuk bisa magang di instansi itu.

  Bahkan dari pihak Bank Tabungan Negara (BTN) Kendari juga memberi harapan positif bagi siswa yang ikut magang dan mendapat prestasi yang baik akan direkrut menjadi karyawan di perusahaan milik negara itu.(anjas)