Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Menhub Optimis LRT Selesai Tepat Waktu

0

Palembang, jurnalsumatra.com – Sejumlah proyek pembangunan transportasi Sumatera Selatan (Sumsel) yang sejak November kemarin sudah mulai dikerjakan untuk pertama kalinya mendapat kunjungan Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan meninjau langsung pengerjaan jalur kereta api listrik ringan atau light rail transit (LRT) di Palembang.

Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan pertama kalinya meninjau langsung pengerjaan jalur kereta api listrik ringan atau light rail transit (LRT) di Palembang, Sabtu (9/1).

Setibanya di Ruang VIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin didampingi pihak PT Waskita Karya, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumsel (Dishubkominfo) Sumsel, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan Oversight Commitee (OC) Pembangunan Prasarana LRT memaparkan progres pembangunan LRT dihadapan Menhub.

Jonan menuturkan, setelah mendengarkan pemaparan dirinya menilai tidak ada kendala yang berarti dalam pembangunan LRT. Dirinya optimis bahwa target Juni 2018 mulai beroperasi bisa tercapai, katanya pada jurnalsumatra.com.

“Ada tiga fokus yang menjadi penentu. Pertama yakni waktu pengerjaan harus tepat dan sesuai timeline yang direncanakan. Yang kedua kordinasi dii lapangan. Pak Gubernur yang melakukannya untuk memimpin kordinasi dengan stakeholder lain seperti PU dan lainnya,” tuturnya usai paparan.

Yang ketiga masalah teknis. Dirinya pun menilai teknis pengerjaan tak ada lagi masalah. PT Waskita Karya sebagai kontraktor harus terus berkoordinasi dengan Pemprov Sumsel terkait pengerjaan yang melibatkan instansi lain, seperti pemindahan pipa gas, kabel listrik dan lainnya.

Sementara untuk pengadaan kereta listriknya, Jonan mengisntruksikan PT KAI yang melakukannya sebagai operator LRT nantinya.

“LRT ini dibutuhkan di Palembang untuk menunjang transportasi perkotaan. Kota-kota lain pun mau dibangun (transportasi masal-red) seperti ini, hanya beda jenisnya saja. Kalau di Bandung sama akan bangun LRT, Surabaya rencananya bangun trem,” tuturnya.

Dirinya meminta OC LRT proaktif, karena posisinya mengawasi proyek ini yang mewakili dirinya sebagai konsultan dan mensupervisi pembangunan LRT.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin menuturkan, kendala dalam pembangunan LRT pasti banyak terjadi mengingat pembangunan jalur sepanjang 22,5 Km hanya dilakukan dalam waktu dua tahun. Pihaknya akan memperkuat koordinasi agar pengerjaan tetap lancar.

Alex berujar, LRT Palembang merupakan menjadi angkutan umum dalam kota yang pertama selesai di Indonesia melayang. “Kami sangat bangga bisa memiliki LRT. Makanya Pemko Palembang dan Pemprov Sumsel habis-habisan melakukan segala hal agar pembangunannya selesai tepat waktu,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian, pada 2019 mendatang di Palembang akan terjadi grand lock atau kemacetan total. Oleh karena itu pihaknya melakukan upaya penanggulangannya dari empat tahun sebelumnya. Selain membangun LRT, keberadaan Jembatan Musi IV dan VI, tiga ruas jalan tol, serta tambahan dua flyover baru pun akan mengurai kemacetan di Palembang.

Saat ini, pembangunan LRT saat ini sudah pada tahap pembangunan struktur tiang pancang yang dibagi dalam lima zona yang semuanya berjalan bersamaan dengan proses konstruksi fast track. PT Waskita Karya menggunakan dua macam pengerjaan pondasi, yakni pancang (pile) dan buffel.

Direktur Operasional II PT Waskita Karya Adi Wibowo mengatakan, jenis pancang digunakan di 387 titik pondasi dan buffel di 228 titik pondasi. Hingga kini pihaknya telah melakuakn galian di 26 titik yang tersebar di lima zona. Pengecoran tiang pondasi yang paling tinggi baru mencapai 2,4 dari 8 meter yakni di zona I dekat bandara.

“Kordinasi dengan instansi terkait lain harus terus dilakukan karena selain masalah di lapangan, kami juga masih terhambat masalah instalasi PDAM dan PLN yang melintas di jalur yang akan dibangun. Ada tiga Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTET) yang perlu dinaikkan,” paparnya.

Selain itu, ada tiga tikungan tajam yang apabila nanti LRT telah melaju, tidak boleh lebih dari 80 km/jam. Yakni di Simpang Polda, Jalan Angkatan 45, dan Jalan A Rivai Simpang Charitas.

“Selain itu ada lahan perbukitan yang tidak rata, naik turun seperti di Jalan Kol H Burlian dan Jalan Lebar Daun. Bisa jadi ada perubahan desain, namun ini harus kembali dikordinasikan dengan Pemprov Sumsel, OC LRT, dan instansi lain,” jelasnya.(yuyun)