Tarif Angkutan Umum Turun 2,87 Persen

0

PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Sesuai dengan intruksi Menteri Perhubungan RI, atas turunnya tarif angkutan pasca adanya penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), Pemerintah Provinsi Sumsel pun telah lakukan perhitungan sendiri. Meski tak turun sebanyak lima persen mengikuti turunnya tarif AKAP di tingkat nasional, namun untuk AKDP akan turun sebanyak 2,87 persen.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi Provinsi Sumsel Nasrun Umar melalui Kabid LLAJ dan Perkeretaapian Dishubkominfo Sumsel Sudirman pada jurnalsumatra.com,, pihaknya mengikuti intruksi Menteri Perhubungan untuk melakukan perhitungan kembali untuk besaran tarif angkutan setelah adanya penurunan harga BBM di Sumsel.

“Kita sepakat, tarif angkutan turun 2,87 persen atau Rp3,82 per km,” kata dia, ditemui usai rapat penetapan penurunan tarif angkutan di Kantor Dishubkominfo Sumsel, kemarin (12/1).

Ia mengatakan, persentase disesuaikan dengan perhitungan semua komponen yang terlibat. Bukan hanya BBM saja, melainkan harga sparepart atau suku cadang, biaya servis kendaraan, dan kenaikan UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten) turut menjadi pertimbangan. Termasuk nilai inflasi juga diperhitungkan.

Sesuai dengan hasil rapat tersebut, ditetapkan tarif batas atas yang semula Rp159,55 per km menjadi Rp154, 97 per km. Lalu untuk tarif batas dasar, dari awalnya Rp132,96 menjadi Rp129,14 per km.

Selain itu juga ada tarif batas bawah yang semula Rp106,37 menjadi Rp103,31. Contohnya untuk di Kayu Agung-Palembang, tarif batas dasar yang semula Rp8.800 menjadi Rp8.500. Lalu untuk tarif batas atas dari semula Rp10.500 menjadi Rp10.200.

Sementara itu, tarif batas bawah dari semula Rp7.000 menjadi Rp6.800 khusus Kayu Agung-Palembang. Sudirman menyebutkan, pemberlakuan tarif tersebut diterapkan hingga SK dari Gubernur Sumsel mengenai tarif yang baru keluar. “Kita sudah ajukan ke Gubernur Sumsel di hari ini, setelah rapat tadi. Mungkin dalam jangka waktu seminggu kedepan, sudah selesai dan diberlakukan tarif baru,” terang dia.

Ia berharap semua pengusaha dan operator kendaraan umum dapat menggunakan tarif baru tersebut. “Mau tidak mau mereka harus setuju dengan keputusan itu,” cetus Sudirman.

Sementara itu, Ketua DPD Organda Provinsi Sumsel Zulfikri Aminuddin, pihaknya akan menjalankan kebijakan tersebut. “Kita sudah lakukan perhitungan dan sepakat dengan penentuan tarif yang baru,” tukasnya.

Kenapa besaran persentase turunnya tarif angkutan sangat kecil? Ia menyebutkan, penurunan harga BBM itu tidak signifikan dan cenderung tidak berpengaruh pada operasional kendaraan angkutan

Ia menjelaskan, pengaruh yang paling besar terhadap penurunan tarif angkutan adalah harga onderdil. Sebab, onderdil itu kebutuhan yang paling mendasar. “Kalaupun turun BBM nya, tapi sparepart tidak mengalami penurunan, sama saja tidak pengaruh. Tapi kita ikuti dan bakal jalankan kebijakan bersama Pemprov Sumsel ini,” imbuhnya.

Diketahui, per Januari 2016 berdasarkan SK Menteri ESDM, pemerintah menurunkan harga bahan bakar solar menjadi Rp5.950 per liter dari harga sebelumnya Rp6.700 per liter. Sementara premium Rp6.950 dari Rp7.300 per liter.
“Kita akan ikut pemerintah. Kalau pemerintah ingin tarif turun, tarif angkutan akan kita turunkan,” tandasnya.(yuyun)