Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Gubernur: Masyarakat Jangan Mudah Terhasut Ajaran Mencurigakan

0

    Boyolali, jurnalsumatra.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau masyarakat di Jateng jangan mudah terhasut ajaran tertentu yang mencurigakan dan tidak masuk akal seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dalam konteks bernegera dan beragama.
“Kami minta masyarakat yang mengetahui sesuatu yang mencurigakan langsung melapor kepada kami,” kata Gubernur saat diminta menanggapi isu aliran Gafatar mulai meresahkan masyarakat, di Boyolali, Rabu.
Menurut Gubernur, aliran mereka mengarah kepada anak-anak kost yang berjiwa muda. Jika aliran sudah tidak masuk akal dalam konteknya bernegara dan beragama langsung saja dilaporkan ke Pemerintah, katanya.
“Kita mempunyai daya kontrol. Tolong jika menemukan hal serupa laporkan. Kita bersama TNI, Polri, intelijen dan instansi lain untuk mengecek,” katanya.
Gubernur mengatakan, pihaknya memang sudah pernah melakukan audensi dengan aliran tersebut, dan intinya mereka menerjemahkan ulang, semacam revitalisasi Pancasila.
“Saya bilang jangan aneh-aneh, dan saya mulai curiga meminta jangan bicara yang sesat,” katanya.
Gubernur menjelaskan, organisasi atau kelompok tersebut mempunyai akte notaris tetapi tidak ada surat keterangan terdaftar (SKT), dan pada 2014 habis tidak diperpanjang.
Terpisah Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Boyolali, Supomoharjo, mengatakan, pihaknya melakukan antisipasi munculnya aliran yang mencurigakan dengan meningkatkan peran RT dan RW menjadi ujung tombak terciptanya suasana kondusif masyarakat.
Menurut dia, jika aparat RT dan RW di seluruh Kabupaten Boyolali melakukan pengawasan warganya secara optimal dampaknya akan kondusif dan keamanan lingkungan terjaga dengan baik.
“Kami yakin jika RT/RW mendata dan mengawasi warganya secara cermat tidak mungkin terjadi kegaduhan atau kejadian yang mengarah pada suasana tidak kondusif di lingkungan,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap RT/RW di tingkat paling bawah untuk terus melakukan pendataan dan pengawasan terhadap warganya, misalnya ada warga baru harus dicatat asalnya, pekerjaannya, kegiatannya, jumlah keluarga dan sebagainya.
Pihaknya hingga kini terus melakukan pengawasan dan monitoring apa yang dilakukan Ormas atau Lembaga Swadaya Masyarakat di Boyolali.
Menyinggung kelompok Gafatar di luar Boyolali, Supomohajo menjelaskan kegiatan di Boyolali memang pernah ada pada awal 2014. Kegiatan mereka awalnya melakukan bhakti sosial kepada masyarakat di Kecamatan Wonosegoro Boyolali.
Namun, kelompok LSM tersebut tidak terdaftar di Kesbangpol Boyolali sehingga pengawasan dan monitoring terus dilakukan.
“Jumlah Ormas dan LSM di Boyolali, sebanyak 74 yang memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT), sedangkan Gafatar tidak tercatat,” katanya.(anjas)