PEMKOT Siapkan Mobil Tangki Operasi Air Bersih

0

Antara, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Ambon menyiapkan tiga unit mobil tangki untuk menyalurkan air bersih di sejumlah kawasan yang mengalami krisis air bersih.
“Beberapa pekan terakhir ini, kita mengalami musim kemarau yang panjang yang berdampak pada kebakaran hutan dan lingkungan, serta krisis air bersih sehingga mulai hari ini akan disiapkan tiga unit mobil tangki untuk menyalurkan air bersih,” kata Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy di Ambon, Jumat.
Menurut dia, mobil tangki akan melayani sejumlah kawasan di kota Ambon yang mengalami krisis air bersih dan pengaturannya akan dilakukan lurah dan raja setempat.
Operasi tersebut dilakukan karena harga air bersih mengalami kenaikan dari semula Rp120 ribu per tangki menjadi Rp300rb – Rp350rb per tangki.
“Kenaikan harga tersebut membuat kami menempuh kebijakan operasi air bersih agar warga yang selama ini mengalami krisis air bersih dapat terlayani, dan mengurangi beban masyarakat,” katanya.
Richard mengatakan di sejumlah kawasan mengalami kekeringan, di tempat lain air melimpah tetapi tidak dimanfaatkan warga dengan baik.
“Marilah kita hemat menggunakan air bersih, dimanfaatkan dengan baik jangan seenaknya menggunakan seperti mencuci kendaraan dengan air yang terus mengalir tanpa dimatikan dari keran air. Karena di sebagian tempat ada yang tidak merasakan air bersih,” tandasnya.
Ia mengakui musim kemarau juga berdampak pada  kebakaran hutan  untuk itu pihaknya mengimbau warga untuk berhati-hati dalam membuka lahan baru, serta menggunakan benda yang mudah terbakar di sekitar lahan baru atau hutan.
Kebakaran hutan lanjutnya terjadi di sejumlah lokasi yakni hutan kawasan Halong, Gunung Nona dan sejumlah kawasan lainnya, hal ini berdampak pada kabut asap dan debu yang menyelimuti kota Ambon.
“Kita terus berupaya meminimalisir terjadinya bencana kebakaran hutan di Kota Ambon akibat musim kemarau yang berkepanjangan, selain antisipasi kami juga meminta warga untuk lebih siaga,” ujarnya.
Ia menambahkan langkah antisipasi telah dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar terus waspada terhadap bahaya kebakaran akibat musim kemarau.
Upaya tersebut lanjutnya, perlu mendapat partisipasi dari masyarakat karena tidak mungkin sosialisasi dilakukan tanpa dukungan masyarakat.
“Percuma jika kita melakukan sosialiasi dan imbauan, tetapi masyarakat tidak peka terhadap setiap kondisi yang terjadi. Pemerintah butuh laporan masyarakat yang mampu memproteksi terjadinya bencana sehingga dapat diantisipasi secara cepat,” kata Richard Louhenapessy.(anjas)