BI : Tingkat Konsumsi Masyarakat Surabaya Masih Kuat

0

     Surabaya, jurnalsumatra.com – Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur mencatat tingkat konsumsi masyarakat Surabaya masih kuat, tercermin dalam Indeks Riil Penjualan Eceran (IRPE) yang tercatat naik secara bulanan maupun tahunan sebesar 2,09 persen untuk bulanan atau (mtm) dan 2,89 persen untuk tahunan atau (yoy).
Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jatim, Benny Siswanto, Senin, mengatakan kuatnya konsumsi didukung dengan tingginya permintaan masyarakat terhadap kelompok makanan, minuman serta kelompok bahan bakar.
“Sedangkan kelompok suku cadang, barang budaya dan rekreasi serta perlengkapan rumah tangga menjadi faktor penahan pertumbuhan tersebut,” kata Benny dalam keterangan persnya.
Ia mencatat, pada Desember 2015 Survei Penjualan Eceran (SPE) mencatat aktivitas konsumsi meningkat di semua kelompok barang dengan ekspektasi pertumbuhan penjualan sebesar 5,90% (mtm), dan diperkirakan masih akan meningkat pada kelompok makanan, minuman, tembakau, bahan bakar, pelumas, perlangkapan rumah serta barang budaya dan rekreasi.
Terkait dengan ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga, SPE menunjukkan optimisme masyarakat pada periode tiga bulan yang akan datang, dan cenderung stagnan pada periode enam bulan yang akan datang.
“Masyarakat masih optimistis biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja relatif stabil hingga enam bulan mendatang. Dan indeks ekspektasi penjualan menunjukkan peningkatan karena diyakini meningkatnya daya beli masyarakat pasca kenaikan UMK pada awal tahun,” katanya.
Untuk Survei Konsumen (SK), kata Benny, terjadi penurunan optimisme pada Desember 2015 yang diukur menggunakan Indikator Keyakinan Konsumen (IKK), dan mencatatkan penurunan optimisme sebesar 2,6 poin.
Penurunan ini didorong oleh salah satu indikator Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun sebesar 5,8 poin pada Desember 2015, dibanding sebelumnya yang mencapai 100,8 poin.
“Penurunan terjadi pada indikator ketersediaan lapangan kerja yang masih berada pada zona pesimistis atau di bawah 100 poin, yakni 82,4 poin dan indikator pengeluaran membeli barang tahan lama yang mencerminkan perilaku masyarakat yang masih cenderung menahan konsumsi barang tahan lama,” katanya.
Sementara untuk indikator penghasilan, mengalami peningkatan dari 129,8 poin menjadi 131 poin yang disebabkan oleh peningkatan ekspektasi kondisi ekonomi Indonesia yang naik sebesar 7 poin.
“Peningkatan tersebut diperkirakan merupakan dampak dari terkendalinya tingkat inflasi selama tahun 2015 serta rencana kenaikan UMK di tahun 2016,” katanya.(anjas)