Legislator Sidak RSUD Takalar Terkait Gizi Buruk

0

    Makassar, jurnalsumatra.com – Legislator DPRD Provinsi Sulawesi Selatan asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) H Hengki Yasin melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait bayi penderita gizi buruk ditolak Rumah Sakit Umum Padjonga Daeng Ngalle di Kabupaten Takalar, Sulsel.
“Mendengar kabar ada berita saya langsung mengunjungi rumah sakit setempat dan mempertanyakan apakah ada penolakan pasien gizi buruk,” paparnya saat dihubungi, Sabtu.
Dalam kunjungan itu, dirinya mempertanyakan bila benar pihak rumah sakit menolak dan tidak melayani pasien gizi buruk bernama Alya bayi berusia empat bulan saat berobat disana sejak beberapa hari lalu.
Namun pihak rumkit setempat sempat berkilah, dengan menyatakan pasien sudah mendapatkan perawatan kembali setelah dijemput petugas kesehatan.
“Setelah saya tanyakan kepada pihak rumah sakit katanya sudah dijemput di rumahnya dan sudah kembali di rawat, makanya saya datang untuk melihat langsung,” papar di RSU Takalar.
Sebelum ke rumah sakit, dirinya menyempatkan mengunjungi rumah penderita yang menetap di Dusun Punaga, Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Takalar, namun keburu di jemput pihak Rumkit setempat.
“Awalnya saya langsung mengunjungi rumah penderita gizi buruk ini, setelah mendapati rumahnya para tetangga mengatakan petugas kesehatan datang menjeput Ayla, sehingga saya langsung ke mari,” ujarnya usai menjenguk korban bersama orang tuanya.
Pihaknya memberikan apresiasi terkait penanganan gizi buruk dengan cepat direspon atas laporan serta menutup romor yang berkembang di media atas pelayanan kesehatan Rumkit tersebut.
“Secara pribadi, saya mengapresiasi langkah pihak Rumkit  itu atas kesigapannya merespon laporan adanya penderita gizi buruk,” ulas dia.
Hengki mengharapkan agar kedepan pelayanan kesehatan harus lebih di maksimalkan. Dan untuk itu perlu dipikirkan membuat nomor hotline khusus bagi pasien yang membutuhkan layanan penjemputan utamanya bagi keluarga kurang mampu apalagi tinggal di daerah terpencil  dan  jaraknya jauh.
Agar lebih efektif, kata dia, perlu ditingkatkan jumlah mobil ambulans di  setiap puskesmas yang ada. Karena puskesmas tersebut akan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan, khususnya di daerah yang sulit dijangkau di Kabupaten Takalar khususnya.
Sebelumnya, ayah Alya, Ibrahim Daeng Tiro (38) bersama istrinya Yanti (36) menyebutkan anaknya sempat di rawat di RSU itu selama tiga minggu, karena tidak cukup biaya menjadi peserta umum maka memilih pulang, padahal kondisi anak belum pulih benar.
Kendati sebagai orang miskin sehari-hari bekerja sebagai buruh harian memperoleh upah Rp100 ribu perhari, Ibrahim menyatakan tidak mampu membayar biaya pengobatan kesehatan anaknya sekitar Rp600 ribu per minggu.
Meski telah menyodorkan surat keterangan miskin dari pemerintah setempat beserta Kartu keluarga dan KTP, namun pihak Rumah Sakit tidak bergeming.
Memang Ibrahim bersama mengakui keluarganya tidak terdaftar sebagai peserta BPJS maupun Kartu Indonesia Sehat (KIS) tapi pernah masuk daftar Jamkesda
Sejak Jaminan Kesehatan Daerah atau Jamkesda dan KIS sudah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan, sehingga pihak Rumkit tidak lagi memberlakukannya dengan alasan sudah di satukan.
“Saya hanya pekerja bangunan, selama ini hidup menumpang di salah satu rumah warga. Syukur alhamdulilah anak saya kembali dirawat di rumah sakit ini setelah dijemput,” katanya.(anjas)