Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Buku Polowijan Diharapkan Ubah Pandangan Terhadap Difabel

0

    Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Buku berjudul Polowijan, Disabilitas Dalam Budaya Masyarakat Eksotik karya Ki Herman Sinung Janutama diharapkan mampu mengingatkan masyarakat tentang budaya Jawa zaman dulu yang menghormati kaum difabel.
“Semoga buku ini juga bisa menjadi bahan bagi pembuat kebijakan terkait difabel karena buku ini menempatkan penyandang disabilitas dalam posisi yang bagus,” kata Direktur LSM Sentra Advokasi Perempuan dan Anak (SAPDA) Nurul Sa’adah Andriyani pada peluncuran dan bedah buku Polowijan di Joglo Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Rabu.

     Ia mengakui memang ada periode-periode yang menghilangkan pandangan bagus terhadap kaum difabel karena penjajahan dan pengaruh kapitalisme. Perubahan budaya yang semakin modern juga membuat kaum difabel tersingkir akibat cara pandang masyarakat yang berbeda dengan zaman dulu.
“Kami melihat ada kegelisahan karena beberapa kasus yang terjadi dan memperlihatkan bahwa banyak teman difabel mengalami kekerasan karena akar tradisi budaya,” kata Nurul.

     Karena itu, katanya, LSM SAPDA bersama dengan Ki Herman Sinung Janutama berusaha untuk melakukan penelitian, kemudian menyusun hasilnya dalam bentuk sebuah buku yang mengupas tentang budaya Jawa terkait dengan difabel.
Menurut dia, buku Polowijan juga diharapkan mampu menyadarkan para pembaca dan masyarakat lain untuk lebih peduli dan menghargai kaum difabel. Bukan untuk mengistimewakan kaum difabel melainkan menganggapnya setara dengan masyarakat lain.

     “Melalui buku ini kami melakukan pembongkaran tradisi Jawa karena sebetulnya Polowijan ini melihat ke dalam tradisi Jawa,” kata Nurul.
Sementara itu, Ki Herman Janutama mengatakan ingin membuat satu landasan teoritik bagi kajian-kajian mengenai difabel, karena selama ini tulisan-tulisan tentang disabilitas hanya berkaitan dengan praktik dalam hal advokasi terhadap kaum difabel.

     Ki Herman Sinung Janutama mengatakan menyelesaikan penulisan buku Polowijan ini sekitar 3-4 bulan, sedangkan proses penelitiannya dimulai dari 2007.
Ia mengakui buku Polowijan cukup sulit untuk dipahami karena memang tidak hanya ditujukan pada masyarakat biasa tetapi juga untuk para pejabat agar mamahami keadaan para penyandang disabilitas.(anjas)