Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Dinkes Kota Bogor Sosialisasikan Efek Negatif Fogging

0

    Bogor, jurnalsumatra.com – Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat, mensosialisasikan efek negatif yang ditimbulkan dari kegiatan fogging atau pengasapan dalam upaya pencegahan DBD kepada masyarakat, dan lebih mendorong warga untuk melakukan gerakan pemberantasan nyamuk (PSN).
“Fogging selain biayanya mahal, tidak begitu signifikan memberantas jentik nyamuk. Hanya mampu membunuh nyamuk dewasa, bahkan membuat nyamuk resisten atau kebal,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah, Rabu.

    Dikatakannya, dalam Jurnal Epidemiology 1992, diteliti mengenai hubungan antara paparan melation dengan kejadian kelainan gastrointestinal (saluran cerna). Ditemukan bahwa wanita hamil yang terpapar melation mempunyai resiko 2,5 kali lebih besar dari anaknya menderita kelainan saluran cerna.
Masalah lain juga pernah juga diteliti, lanjutnya, paparan terhadap malation ini mengakibatkan gagal ginjal, gangguan pada bayi baru lahir, kerusakan gen dan kromosom pada bayi dalam kandungan, kerusakan paru dan penurunan sistem kekebalan tubuh.
“Malation juga diduga mempunyai peran terhadap 28 gangguan, mulai dari gangguan gerakan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak,” katanya.

    Tidak hanya itu, lanjut Rubaeah, bahaya penggunaan solar yang menjadi bahan pengencer malation. Hasil pembakarannya mengikat hemoglobin (Hb) dalam darah dibandingkan oksigen.
“Racun hasil pembakarannya mengakibatkan radang paru-paru, penyumbatan bronchioli, serta iritasi dan produksi lendir berlebihan pada saluran nafas,” katanya.
Bahaya jangka panjang dari penggunaan pestisida termasuk insektisida dalam penanganan DBD dapat menimbulkan dampak kronis pada tubuh diantaranya, sistem syaraf berupa masalah ingatan yang gawat, sulit berkonsentrasi, perubahan kepribadian, kelumpuhan, kehilangan kesadaran dan koma.
“Bahaya lainnya, gangguan di perut, berupa muntah-muntah, sakit perut dan diare, serta sistem kekebalan dan keseimbangan hormon terganggu,” katanya.

    Dikatakannya, dampak jangka panjang yang mungkin disebabkan oleh racun tersebut akan bersifat karsinogenik (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenik (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang), teratogenik (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan) dan residu sisa berbahaya bagi konsumen.
“Sebab fogging mengandung zat yang bersifat racun maka jika disemprotkan ke rumah-rumah penduduk akan sangat berbahaya bagi seluruh anggota keluarga, terlibat anak dan balita,” katanya.
Menurut Rubaeah, pihak pembuatan bahan fogging telah melakukan uji keamanan, tetapi setiap masyarakat harus tetap semakin menyadari bahwa ada resiko yang akan ditanggung apabila terpapar bahan-bahan tersebut.
“Kita berharap mengatasi satu masalah yakni DBD, tetapi timbul masalah kesehatan lainnya. Maka itu, pengasapan hanya bisa membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya tidak,” katanya.
Oleh karena itu, lanjut Rubaeah, upaya untuk mencegah penyebaran DBD di masyarakat langkah efektif yang dapat dilakukan adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M plus. PSN hendaknya rutin dilakukan minimal seminggu sekali di setiap rumah oleh pemiliknya. Caranya adalah dengan 3M plus yakni menutup tempat penampungan air, menguras dan menyikat bank mandi, mengubur barang bekas seperti kaleng bekas, botol minuman, ban bekas maupun sampah yang memungkinkan air tergenang.

    “Gunakan bubuk larvasida seperti abate ke dalam tempat penampungan air yang sulit dikuras seperti drum, toren, bak atau kolam yang tidak beralaskan tanah, dengan dosis satu sendok makan untuk 100 liter air,” katanya.
Selanjutnya, memelihara ikan pemakan jentik, tidak menggantungkan pakaian, menggunakan kawat nyamuk, menggunakan repellent, dan memasang ovitrap (perangkap telur atau jentik nyamuk).
“Bila PSN dilakukan rutin oleh seluruh rumah minimal seminggu sekali, DBD bisa kita cegah bersama-sama,” katanya.
Tercatat hingga 16 Februari kemarin jumlah kejadian DBD sebanyak 258 kasus, terdiri atas 176 kasus di bulan Januari dan 82 kasus di bulan Februari. DBD juga menyebabkan dua orang meninggal dunia.
“Kami telah instruksikan Pokja DBD kecamatan dan kelurahan untuk mengajak warga melakukan PSN di rumah dan wilayah masing-masing, agar kasus DBD di Kota Bogor dapat ditekan,” kata Rubaeah.(anjas)