Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Disdukcapil Lubuklinggau Tingkatkan Sosialisasi Pembuatan Akta Kelahiran

0

Lubuklinggau, jurnalsumatra.com – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk membuat akta kelahiran agar menguatkan kesadaran mereka tentang pentingnya tertib administrasi kependudukan.
“Semua masyarakat akan dilayani untuk membuat akta kelahiran, asal memenuhi syarat yang telah ditentukan, antara lain keterangan lahir dan buku nikah orang tua,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Lubuklinggau J. Iman Sitepu di Lubuklinggau, Senin.
Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat agar mengurus akta kelahiran tidak lewat usia anak lebih dari satu tahun, agar petugas cepat melakukan pemutakhiran data.
Persyaratan bagi masyarakat yang akan membuat akta kelahiran di Disdukcapil harus membawa kartu keluarga atau domisili di Kota Lubuklinggau.
Selain itu, membawa surat keterangan lahir dari bidan, dokter, puskesmas, selanjutnya buku nikah atau akta pernikahan orang tua untuk kepentingan pengisian formulir pelaporan kelahiran.
Hingga saat ini, data anak usia 0-18 tahun yang sudah membuat akta kelahiran tercatat 60.458 anak, sedangkan yang belum mengurus dan membuat akta kelahiran 12.500 anak.
Jumlah itu berdasarkan anak usai 0-18 tahun sejak 2002 hingga akhir Januari 2016 yang tercatat 72.977 anak. Mereka yang sudah membuat akta kelahiran sampai dengan akhir Januari tercatat 60.458 anak.
Untuk mengurus pembuatan akta kelahiran, usia anak di bawah satu tahun secara gratis, tetapi untuk mereka yang belum mengurus atau terlambat membuat akta kelahiran akan dikenakan denda administrasi Rp25 ribu berdasarkan peraturan daerah.
“Bagi keluarga yang tidak mampu akan dibebaskan denda jika lewat batas waktu dengan syarat harus menunjukan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan,” katanya.
Selama ini, katanya, anak belum mengurus akta kelahiran biasanya karena belum masuk usia sekolah, dan bila mulai sekolah, orang tuanya baru membuat akta kelahiran.
“Dari jumlah anak usia sekolah yang sudah membuat akta kelahiran sekitar 83 persen,” katanya.
Ia mengatakan faktor lain yang menyebabkan masyarakat belum mengurus akta kelahiran, yakni baru lahir dan belum ada nama, orang tua anak tidak memiliki buku nikah, tetapi kepingin anaknya ada akta kelahiran.
“Kita tida bisa membantu mencantumkan nama ayah dan ibu anak tersebut bila tidak ada buku nikah, meskipun alasan hilang atau nikah siri,” katanya.
Sejak berdiri Lubuklinggau pada 2002 sampai januari 2016, sudah lebih separuh anak yang membuat akta kelahiran, berdasarkan data yang ada di Dsidukcapil sejak 2015, warga yang membuat akta kelahiran di bawah usia 60 hari mencapai 2.700 anak.
“Dengan indikator itu kesadaran masyarakat mengurus akta kelahiran sudah cukup tinggi, meskipun demikian kami tetap melakukan upaya sosialisasi lewat ketua rukun tetangga agar masyarakat segera mengurus akta tersebut,” ujarnya.(anjas)