Dinsos DKI Reunifikasi 1.025 Eks Anggota Gafatar

0

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Sebanyak 1.025 eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang berada di penampungan sementara milik Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta telah direunifikasi ke keluarga.
“Di wilayah Jakarta Pusat ada 42 orang, Jakarta Utara 71 orang, Jakarta Barat 115 orang, Jakarta Selatan 215 orang, dan Jakarta Timur 155 orang,” kata Kepala Dinsos DKI Jakarta Masrokhan melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin.
Kemudian, terdapat 427 eks anggota Gafatar yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Jakarta namun dibawa oleh keluarga masing-masing untuk tinggal di Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Sebanyak 1.025 eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) tersebut sebelumnya berada di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya 2 Cipayung, Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Mulia 1 Cipayung, dan Asrama Haji Pondok Gede.

    Dinsos DKI Jakarta melakukan upaya reunifikasi para eks anggota Gafatar agar mereka dapat segera menjalani kehidupan yang normatif bersama keluarga masing-masing
Dalam menjalankan proses reunifikasi tersebut, Dinsos DKI Jakarta pertama-tama mendata para eks anggota Gafatar tersebut untuk kemudian membaginya berdasarkan wilayah di DKI Jakarta.
Untuk menelusuri keberadaan keluarga para eks anggota Gafatar, Dinsos DKI mengerahkan petugas yang ada di setiap kecamatan.
“Kepala Dinas Sosial Kecamatan (KDSK) yang menelusuri langsung keberadaan keluarga mereka. Petugas kami melakukan upaya persuasif dan edukatif kepada keluarga agar mereka mau menerima dan menjemput sanak keluarga yang ada di penampungan sementara,” ucap Masrokhan.

    Selain itu, Dinsos DKI juga bekerja sama dengan Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Dukcapil) untuk mengatasi permasalahan kependudukan.
“Juga kami menjamin untuk membantu kesehatan mereka karena sudah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan,” kata Masrokhan.
Pihak Dinsos DKI juga mengimbau kepada semua pihak yang berkepentingan agar tetap melakukan pengawasan dan deteksi dini mengenai hal-hal yang bisa mengganggu keamanan negara mengingat Gafatar menyangkut permasalahan ideologi.(anjas)