Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Kerusakan Mata Dampak GMT Inkubasinya Enam Tahun

0

PALEMBANG, Jurnalsumatra.com – Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof. Dr. Ir. Anis Saggaff, MSCE mengatakan yang namanya Gerhana Matahari Total itu adalah proses perlintasan antar planet yang diciptakan Allah Maha Besar saat bulan, bumi dan matahari dalam satu baris.

Pada saat terjadi GMT, jika tak menggunakan kacamata khusus, dampaknya akan timbul pada 5 sampai 6 tahun lagi.

Begitu matahari tertutup total, tidak akan berbahaya bagi mata. Tetapi, pada saat ada celah bagi sorotan cahaya mahari, maka radiasi yang dipancarkan pun akan semakin kuat. Sehingga, akan berbahaya bagi mata, dan dapat menyebabkan kebutaan.

“Pada saat terjadi gerhana paling berbahaya untuk mata. Akan ada konsentrasi cahaya yang sangat kuat dan dampaknya terjadi 5-6 tahun lagi, sampai dengan kebutaan. Jangan sekali-sekali mencoba sebagai superman. Pada saat (menyaksikan langsung) itu memang tidak akan terasa,” ungkapnya saat ditemui di Griya Agung, Selasa (8/3/2016).

Anis saggaff mengukapkan , peristiwa GMT terjadi karena kuasa Allah SWT. Dengan adanya kejadian ini, akan membuat umat Islam semakin mengenal sang pencipta. Sehingga, memberi hikmah dekat dengan Allah SWT, bukan karena unsur lainnya.

“Jadi, jangan dikaitkan peristiwa GMT dengan mistik, seperti wanita yang hamil berendam dengan air, sembunyi dibawah tempat tidur, dan sebagainya,” jelasnya.

Dia menambahkan, namanya gerhana itu merupakan proses perlintasan antar planet, yang diciptakan Allah SWT. Diantara perlintasan tersebut ada terlihat, ada juga yang tidak terlihat. Gerhana terjadi karena ada planet yang bersusun dalam satu garis. Seperti Gerhana Matahari Total yang tertutup oleh Bulan, sehingga cahaya matahari tertutup, dan tidak sampai ke bumi.

“Jadi saya menyarankan jangan sekali-sekali seperti superman, melihat dengan mata telanjang. Harus pakai kacamata khusus,” Ungkapnya. (yuyun)