Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD Ramadhan


RSUD Wates-UGM Gelar Simulasi Gempa Bumi

0

     Kulon Progo, jurnalsumatra.com – Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerja sama dengan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan UGM Yogyakarta menggelar simulasi gempa berkekuatan 8,3 skala Richter.
Direktur Keuangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates Lies Indriyati di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan, RSUD Wates merupakan rumah sakit rujukan satu-satunya di Kulon Progo.
“Kami harus harus siap menjadi rumah sakit rujukan dalam kondisi apapun, termasuk bencana. Kita tahu, wilayah DIY potensi terjadi bencana yang setiap saat dapat terjadi. Oleh karena itu, rumah sakit harus siap mengaktifkan tim bencana internal rumah sakit,” kata Lies Indriyanti.

     Menurut dia, simulasi bencana juga menjadi tuntutan akreditasi rumah sakit dalam bentuk standart mutu pelayanan, dan juga tuntutan masyarakat, bahwa RSUD Wates harus mampu menjadi rumah sakit rujukan untuk segela permasalahan kesehatan.
“Kami bekerja sama dengan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta melakukan simulasi siaga bencana di RSUD Wates,” kata dia.
Ia mengatakan pada simukasi ini diskenariokan dua kegiatan yakni skenario gempa dan kebakaran di terminal listrik.
Pada simulasi tersebut digambarkan gemba berkekuatan 8,3 SR dirasakan kuat oleh empat kecamatan di Kecamatan Temon, Wates, Panjatan dan Galur. Gempa yang terjadi selama 10 detik tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.
Gempa juga dirasakan hinggga Kota Wates. Hal ini menyebabkan pasien dan RSUD Wates panik. Keluarga dan pasien berhamburan ke luar rumah sakit.

     “Kami dilatih bagiamana mengevakuasi pasien saat terjadi bencana. Dan kami juga dilatih bagaimana menangani korban pasien bencana yang banyak dengan memberdayakan tenaga medis yang ada,” kata dia.
Disaat yang sama, saat gempa terjadi, lanjut Lies, di simulasikan kegiatan di rumah sakit berjalan seperti biasa. Di ruangan hemodialisa, akibat getaran gempa, tanpa disadari ada specimen cairan yang menjatuhi terminal listrik dan menyebabkan percikan api. Disusul cairan eksplosif jatuh mengenai percikan listrik dan menyebabkan nyala api. Api mulai membesar dan mengenai petugas. Salah satu petugas dapat melarikan diri dan mencari pertolongan.
Terjadi kepanikan massal karena api mulai membesar sehingga pasien dari bangsal yang dekat dengan hemodialisa diputuskan untuk segera melakukan evaluasi. Petugas pemadam api mulai melakukan pemadaman api.
“Kami juga dilatih bagaimana mengaktifkan tim kebakaran. Sehingga, ketika terjadi bencana membutuhkan koordinasi yang baik, supaya pelayanan yang diberikan pasien memuaskan, ” kata dia.

     Wakil Direktur Pelayanan RSUD Wates Witarto mengatakan simulasi bencana sangat sulit. Hal ini dikarenakan kondisi saat simulasi dan di lapangan berbeda jauh.
“Simulasi itu berbeda dengan di lapanban. Kalau terjadi bencana, ada bekerja, rapat dan kondisi semrawut. Menurut kami, ada simulasi di kelas terkait tugas apa yang harus dilakukan saat bencana,” katanya.
Konsultan Devisi Bencana PKMK UGM  Yogyakarta Sulanto Saleh Danu menilai simulasi bencana di RSUD Wates masih banyak standar operasional (SOP) ada yang belum dilaksanakan. “Tadi masih ada yang kurang, bahkan ada yang tidak dilaksanakan,” katanya.
Menurut dia, setiap rumah sakit umum daerah harus memiliki Hospital Disaster Plan (HDP). HDP harus dismulasikan. Setiap HDP yang dimiliki masing-masing rumah sakit berbeda.
“Hal yang terpenting adalah HDP harus disimulasikan, sehingga pemangku kepentingan tahu yang harus mereka lakukan saat terjadi bencana,” katanya.(anjas)