Sekolah MBD Abad XVIII Belum Berstatus Negeri

0

     Tiakur, Maluku, jurnalsumatra.com – Sejumlah sekolah dasar yang sudah berdiri sejak abad XVIII pada zaman penjajahan  Belanda di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) hingga saat ini belum berstatus sebagai sekolah negeri.
“Untuk mendapatkan status sekolah negeri, pihak Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Kristen (YPPK) harus melakukan pengusulan ke Dinas Pendidikan untuk diperjuangkan,” kata Ketua Unit Pelaksana Akreditas Kabupaten Maluku Barat Daya, Hendrik Rupilu di Tiakur, Ibu Kota Kabupaten MBD, Sabtu.
Umumnya sekolah dasar ini sudah ada sejak tahun 1800-an dan didirikan oleh zending atau guru agama di zaman Belanda ketika bangsa itu mulai masuk ke Indonesia dan merambah Pulau Ambon, Banda, hingga gugusan pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya pada abad XVI.
Dia mencontohkan Sekolah Dasar Kristen Paty di Pulau Moa yang didirikan oleh para zending pada tahun 1817 dan masih berada hingga sekarang ini, meski pun kondisinya sudah mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman.

     “Jadi tahun 1817 itu sudah ada sekolah dasar di sana, meski saat itu terjadi pergolakan bersejarah berupa peperangan yang dikobarkan Thomas Matulessy selaku Kapitan Pattimura melawan Belanda di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah,” katanya.
Kemudian ada SD Kristen Abusur di Pulau Wonreli Kisar yang berdiri sejak tahun 1889 dan SD Kristen Nomaha (Pulau Kisar) tahun 1918, SD Kristen Luhulely di Pulau Leti yang sudah ada sejak tahun 1895, serta SD Kristen Hila di Pulau Romang tahun 1900.
Keberadaan sekolah-sekolah ini memang sudah cukup tua usianya, karena bertepatan dengan masuknya Bangsa Belanda ke wilayah Kabupaten MBD lalu mendirikan sejumlah benteng pertahanan sebagai pusat kota.
Misalnya di Wonreli-Kisar terdapat Benteng Delfs Hoven dan Benteng Volen Haven di Pantai Nama yang berdiri sekitar tahun 1616.
Sebenarnya yang masuk pertama di Pulau Wonreli-Kisar adalah Bangsa Portugis yang sebelumnya sudah berada di Timor Leste, tetapi mereka diusir tentara Belanda dari Pulau Banda kemudian membangun benteng di sana.(anjas)