Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


USAID: Kepala Sekolah Harus Aktif Evaluasi Guru

0

Semarang, jurnalsumatra.com – “United States Agency for International Development” (USAID) Prioritas mengajak kepala sekolah untuk aktif menilai dan mengevaluasi kinerja guru dalam pembelajaran.
“Sebenarnya guru sangat memerlukan pengembangan keprofesian,” kata Spesialis Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) USAID Prioritas Jateng, Afifuddin, di Semarang, Selasa.
Hal tersebut diungkapkannya usai Pelatihan Praktik yang Baik modul III Manajemen Berbasis Sekolah di Semarang yang penyelenggaraannya diprakarsai oleh USAID Prioritas Jateng.
Afif menjelaskan pemerintah memang sudah memiliki berbagai program untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru, seperti penilaian kinerja guru (PKG) dan uji kompetensi guru (UKG).
Bahkan, kata dia, ada juga program evaluasi berkala yang dinamakan penilaian formatif oleh kepala sekolah dalam menilai kinerja guru sebagai sarana untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan.
“Jadi, basisnya pada guru. Ada yang namanya penilaian formatif oleh kepala sekolah untuk mengukur kemampuan guru, termasuk untuk menargetkan kemampuan khusus yang dimiliki guru,” katanya.
Ia mencontohkan target guru untuk membimbing siswanya agar lulus ujian nasional (UN) atau target guru agar siswa bisa menjuarai olimpiade atau kejuaraan yang semuanya terukur secara sistematis.
“Penilaian formatif ini, misalnya, ada guru yang kurang menguasai materi-materi tertentu, salah satunya ditunjukkan dengan nilai anak-anak yang kurang di dalam mata ujian UN,” katanya.
Maka dari itu, USAID mengajak 19 sekolah yang berada di bawah binaan Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Diharapkan, kata Afif, kepala sekolah mampu melakukan supervisi untuk memantau dan menilai kinerja guru, serta mampu melakukan peningkatan kualitas jika belum sesuai dengan yang ditargetkan.
“Kepala sekolah harus aktif melakukan ‘blusukan’ ke kelas-kelas, berkeliling sekolah untuk melakukan pemetaan. Ya, ini bagian penilaian formatif yang disesuaikan kebutuhan sekolah,” katanya.
Dari 19 sekolah yang mengikuti pelatihan, sebanyak 19 sekolah merupakan sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI), serta enam sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs).(anjas)