Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Biaya Bongkar Muat Normal

0

Ternate, jurnalsumatra.com – Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Ternate, Maluku Utara (Malut), menyatakan biaya bongkar muat di Pelabuhan Ahmad Yani normal, tidak ada kenaikan signifikan.
Kepala Seksi Lalulintas Laut (Kasi Lala) KSOP Kelas II Ternate, Arifai di Ternate, Selasa, membantah tudingan bahwa biaya bongkar muat di Pelabuhan Ahmad Yani sangat tinggi.
Ia mengungkapkan, total biaya bongkar muat (OPP/OPT) di Pelabuhan Ahmad Yani saat ini Rp3.900.000 untuk 1 kontainer berukuran 20 kaki (feet).
“Biaya ini sudah termasuk ongkos bongkar barang di pelabuhan sampai diantar ke tempat tujuan dan tarif yang ditetapkan itu sudah normal,” katanya.
Sebelumnya, sejumlah pihak menyatakan harga barang terutama kebutuhan pokok di beberapa daerah masih mahal, karena dipengaruhi biaya bongkar muat di Pelabuhan Ternate yang sangat tinggi.
Menurut Arifai, informasi tersebut tidak benar, sebab kalau dihitung untuk semua barang kena biaya bongkar muat Rp175.000, dan tarif tersebut sudah berdasarkan aturan.
Dia membantah jika dikatakan biaya Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) tinggi, karena untuk ongkos buruh terdiri dari “stevedoring” atau biaya bongkar per kontainer 20 feet di pelabuhan senilai Rp 566.018, dan upah buruh “stripping” Rp950.000.
“Jadi total ongkos untuk buruh Rp 1.516.018 per kontainer yang isinya sebanyak 23 ton,” katanya.
“Ongkos buruh per ton barang senilai Rp 65.914 atau senilai Rp 65 per kg dan kalaupun harga barang di luar mahal, bukan pelabuhan yang disalahkan seharusnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang mempunyai tanggung jawab mengendalikan harga-harga barang, bisa saja pelaku-pelaku usaha di pasar seperti distributor yang bermain harga,” katanya.
Arifai menegaskan, biaya bongkar muat tidak bisa seenaknya ditentukan, tetapi mengacu pada aturan.
“Saya menyayangkan adanya opini dari beberapa lembaga yang mengatakan biaya bongkar muat di Pelabuhan Ternate tertinggi di Indonesia. Itu tidak benar,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Malut, Asrul Gailea mengatakan, mahalnya harga barang di Malut tidak ada hubungannya dengan naik atau turunnya harga BBM, tetapi lebih kepada faktor bongkar muat di pelabuhan yang terlalu tinggi.
Apalagi, banyak barang termasuk kebutuhan pokok di Malut yang harus didatangkan dari luar Malut, sehingga kalau pasokan dari luar Malut tidak lancar atau pengangkutannya terhambat, pasti harganya naik.(anjas)