210 Hektare Lahan Pertanian Singkawang Belum Tergarap

0

Pontianak, jurnalsumatra.com – Kepala Seksi Produksi Tanaman Padi, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Nispuhani mengatakan, berdasarkan data tahun 2015 ada 210 hektare lahan pertanian yang belum digarap.
“Lahan-lahan itu mencakupi wilayah Singkawang Selatan 8 hektare, Singkawang Timur 147 hektare, Singkawang Utara 30 hektare, dan Singkawang Tengah 25 hektare. Sementara lahan yang sudah ditanami, ada sekitar 3.146 hektare,” katanya di Singkawang, Selasa.
Masih banyaknya lahan kosong, katanya, dimungkinkan petani kesulitan untuk mengolahnya lantaran terbentur dengan masalah dana.
Saat ini pun di pihaknya belum ada program untuk penanaman pangan.
Sementara untuk padi Hazton, dari 3.000 hektare yang ditargetkan, saat ini baru memasuki tahap penyemaian sekitar 500 hektare yang mencakupi wilayah Naram, Sedau, Setapuk Besar, Semelagi Kecil, dan Sungai Garam.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Hazairin sebelumnya mengatakan, akan membantu pengembangan penanaman padi dengan metode Hazton di Kota Singkawang dengan alokasi lahan pada tahun 2016 seluas 3.000 hektare.
“Kita akan memberikan alokasi anggaran metode tanam padi Teknologi Hazton untuk tahun 2016 sebanyak 3.000 hektare, selain metode tanam padi Teknologi Hazton, Kota Singkawang juga akan mendapatkan alokasi pengadaan pupuk,” kata Hazairin.
Dia menjelaskan, dari hasil panen padi di kawasan Sanggau Kulor Kecamatan Singkawang Timur, tepatnya di areal pertanian Kelompok Tani Bukit Nunga yang telah mengaplikasikan Teknologi Hazton, para petani di sana bisa mendapatkan hasil panen sebanyak sembilan ton per hektar.
“Dengan hasil panen tersebut, Kota Singkawang juga sangat berpotensi menjadi lumbung pangan bagi kawasan sekitarnya,” tuturnya.
Pihaknya juga berkeinginan menjadikan Kota Singkawang sebagai Kota sentra Hazton. Untuk itu, dia berharap, petani yang menggunakan Teknologi Hazton harus mengikuti pola dan cara yang baik dan benar sebab tidak jarang kegagalan teknologi itu disebabkan oleh petani yang keliru dalam penerapannya.
Menurutnya, prosedur atau cara tanam sangat menentukan, dari mulai persemaian benih sudah harus dijaga.
“Termasuk memindahkan benih ke lokasi tanam, kebiasaan kita adalah, ketika mencabut benih, akarnya dibersihkan, ternyata itu sangat berdampak pada pertumbuhan padi,” katanya.
Sehingga, lanjut Nispuhani, cara yang benar dan kita sarankan dalam penerapan teknologi Hazton adalah, ketika memindahkan benih ke lokasi tanam, benih tidak perlu dibersihkan, sehingga tanah asal penyemaian masih terbawa, ini diharapkan benih tersebut tidak stress.
Dia menambahkan, pengembangan metode Hazton tersebut saat ini juga terus dilakukan untuk daerah lainnya di Kalbar. Untuk itu, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan tenaga pelatih untuk penanaman padi dengan metode Hazton.
Penyiapan tenaga pelatih diperlukan untuk pengembangan metode penanaman tersebut secara nasional.
“Saat ini sedang menyiapkan beberapa tenaga pelatih yang akan ditugaskan memberikan penyuluhan kepada petani, maupun lembaga pemerintahan, yang akan mengadopsi penanaman padi dengan metode Hazton,” kata Hazairin.(anjas)