Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


PM Inggris pakai cara Beatles untuk kampanye Uni Eropa

0

London, jurnalsumatra.com – Perdana Menteri Inggris David Cameron berusaha untuk mengulang sampul album “Abbey Road” dari grup musik Beatles, Jumat, dengan berjalan melintasi garis penyeberangan terkenal bagi pejalan kaki ketika ia berkunjung ke studio musik

Ia mengunjungi studio musik itu untuk menemui para musisi yang akan mendukung referendum agar Inggris “tetap” bergabung dalam Uni Eropa.

Turut menyertai Cameron dalam aksi jalan bersejarah itu adalah mantan Menteri Kebudayaan Tessa Jowell. Cameron kemudian berbincang dengan para musisi tersebut menjelang jajak pendapat pada 23 Juni.

Tanggal 23 Juni akan menjadi hari khusus bagi rakyat Inggris memutuskan apakah negaranya akan tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Cameron juga merasakan kehidupan di studio dengan duduk di galeri dan menyaksikan pertunjukan.

” … Memimpin orang-orang dari industri kreatif kami yang besar (telah) mengungkap suatu kasus yang kuat mengapa kreativitas negara ini, industri kreatif negeri ini lebih kuat di Eropa,” kata Jowell.

Lebih dari 250 pesohor Inggris dari dunia seni, termasuk aktor Benedict Cumberbatch dan Helena Bonham Carter, telah menandatangani surat yang mendesak warga Inggris untuk memilih negara mereka tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Sebelumnya, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde pada Jumat memperingatkan bahwa jika Inggris meninggalkan Uni Eropa (Brexit) sebagai hasil dari referendum 23 Juni, Inggris bisa mengalami kejatuhan pasar saham dan penurunan harga rumah.

“Kami telah melihat semua skenario. Kami telah melakukan pekerjaan rumah kami dan kami belum menemukan sesuatu yang positif untuk mengatakan tentang pemilihan Brexit,” kata Lagarde dalam konferensi pers di Departemen Keuangan Inggris di London yang diadakan untuk meluncurkan penilaian tahunan IMF atas ekonomi Inggris.

Penilaian, yang dilakukan pada semua negara anggota IMF setiap tahun, memperingatkan bahwa pilihan untuk meninggalkan Uni Eropa dalam referendum akan meningkatkan gejolak di pasar keuangan dan merusak “output” (keluaran) Inggris.

Laporan itu mencatat: “Sebuah pilihan untuk meninggalkan Uni Eropa akan menciptakan ketidakpastian tentang sifat hubungan ekonomi jangka panjang di Inggris dengan Uni Eropa dan seluruh dunia. Pilihan untuk keluar akan memicu periode ketidakpastian tinggi secara berlarut-larut, mendorong gejolak pasar keuangan dan memukul “output”.”

Dampak-dampak itu akan dirasakan dalam jangka pendek, namun laporan juga meramalkan masalah yang akan muncul dalam jangka panjang, termasuk penurunan peringkat London sebagai pusat keuangan global, dan transfer struktur pasar valuta asing London yang dominan ke dalam zona euro.

IMF mengatakan dalam laporan itu, “Status London sebagai pusat keuangan global juga bisa tergerus, karena perusahaan yang berbasis di Inggris mungkin kehilangan hak-hak passporting mereka untuk menyediakan layanan keuangan ke seluruh Uni Eropa dan banyak bisnis dalam mata uang euro mungkin seiring perjalanan waktu pindah ke negara Eropa lain.”

Laporan mencatat bahwa dalam hal referendum memilih untuk tetap di Uni Eropa, pertumbuhan PDB Inggris akan “rebound” pada semester kedua tahun ini, dengan penarikan terkait referendum di tahun pertama mengakibatkan pertumbuhan dua persen tahun ini. Namun, 2017 diperkirakan menikmati pertumbuhan kuat, di 2,25 persen.

IMF memperkirakan bahwa inflasi, saat ini di 0,5 persen, akan naik menuju angka target dua persen, karena pengaruh harga-harga komoditas keluar dari angka-angka dan efek pengangguran rendah mendorong kenaikan upah.

Beralih ke struktur peraturan Inggris, IMF mencatat bahwa gelombang reformasi peraturan sejak krisis keuangan berarti bahwa “bagian-bagian utama dari sistem keuangan Inggris kelihatan tangguh.”

Bank-bank memiliki lebih dari dua kali lipat rasio modal tertimbang menurut risiko dari tingkat prakrisis, memperkuat likuiditas dan telah mengurangi pengaruh.

Uji ketahanan (stress test) menunjukkan bahwa unsur-unsur utama dari sistem keuangan –bank-bank besar, perusahaan asuransi, manajer aset, dan rekanan– tampak tangguh dalam menghadapi guncangan, kata IMF.(anjas)