Kuntjoro Minta Persi Berperan Aktif Dalam Asian Games

0
persi

Kuntjoro Minta Persi Berperan Aktif Dalam Asian Games

PALEMBANG-Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes meminta Persi Sumsel nantinya beran aktif dalam asian games ketika melantik pengurus PERSI Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Pengurus Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) di Graha Bina Praja Pemprov Sumsel, Kamis (26/05).

Pengurus PERSI yang terpilih sebagai ketua adalah dr.Mohammad Syahril, Sp.P,MPH didampingi oleh dr.Harsono Santoso, MARS sebagai Wakil Ketua. Untuk Ketua MAKERSI yang akan dilantik adalah Prof.dr.Hardi Darmawan, MPH&TM, FRSTM bersama Wakilnya Prof.dr.HA.Kurdi Syamsuri, SPOG, KFM, MSc.

Pelantikan pengurus PERSI dan MAKERSI di hadiri oleh Asisten III Pemprov Sumsel, Ahmad Najib dan perwakilan dari seluruh rumah sakit se-Sumsel.

Mewakili Gubernur Sumsel, Najib mengatakan PERSI merupakan wadah berkomunikasi rumah sakit di Indonesia. Pengurus juga harus berdedikasi dan berperan aktif serta menjalin komunikasi antar pengurus dan anggota.

“Menjadi tugas PERSI untuk mengakreditasi rumah sakit yang ada di Sumsel. Di Sumsel rumah sakit ada yang sudah terakreditasi nasional seperti RS Muhammad Husin, RS Palembang Bari,” jelasnya.

Najib melanjutkan, Sumsel akan menjadi tuan rumah Asian Games, didalam corko meeting Asian Games mensyaratkan rumah sakit yang terakreditasi dengan dokter yang mempunyai kemampuan dan peralatan lengkap.

“PERSI harus tanggap bila ada keluhan masyarakat yang tidak dilayani atau komplain. Rumah sakit kedepan menjadi sorotan masyarakat dan juga menjadi harapan masyarakat. Mereka tidak mau masuk rumah sakit dan meninggal disana, yang diinginkan masyarakat keluar rumah sakit sehat,” katanya.

Prof.dr.Hardi Darmawan, MPH&TM, FRSTM, ketua pengurus pusat PERSI mengatakan, PERSI akan merubah prilaku rumah sakit hal itu berdasarkan Undang-Undang.

“Ada tiga hal yang harus dijadikan satu kesatuan yakni pertama jangan bermain-main dalam akreditasi versi 2012 atau JCI Internasional, kedua melaksanakan program  Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ketiga benar-benar mengaplikasikan Balai Layanan Umum (BLU) dan  Balai Layanan Umum Daerah (BLUD),” tegasnya.

Dilanjutkan Hardi, organisasi rumah sakit paling rumit karena banyak berinteraksi kepada banyak orang, orang yg masuk ke rumah sakit pada posisi susah, selain itu ada ulah dari karyawan dan keterbatasan rumah sakit.

“Bila ada penolakan pasien maka PERSI harus hadir disitu, kenapa terjadi seperti itu, apakah benar tempat tidur kosong, kejadian seperti itu seharusnya tidak terjadi bila ada sistim informasi sehingga PERSI tahu juga Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Dijelaskanya pula, jangan ada oasien dirujuk ke rumah sakit tetapi mengurus sendiri, yang harus mengurus adalah rumah sakit bila belum diterima maka rumah sakit itu berkewajiban merawat.

“Rumah sakit memang ada tempat tidur kosong tetapi tidak bisa diisi karwna adan pemisahan antara laki-laki dan perempuan, anak dengan dewasa dipisahkan, serta penyakit pasca bedah dengan infeksi. Rumah sakit yang mutunya baik hanya diisi 80 persen dari kapasitas, yang 20 persen memberikan nafas untuk pembersihan, jadi yang penting koordinasi,” urainya.

Sementara ketua PERSI Sumsel dr.Mohammad Syahril, Sp.P,MPH mengamini apa yang dikatakan Kuntjoro. “Di Sumsel jumlah rumah sakit ada 67, yang sudah terakreditasi baru tunuh rumah sakit. Program PERSI kedepan semua rumah sakit di Sumsel harus terakreditasi karena itu amanat Undang-Undang,” jelasnya”(mdn)