Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


KEPSEK Di Probolinggo Kenalkan Program “Sagu Sapo”

0

Jakarta, jurnalsumatra.com – Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Probolinggo, Sunardi memperkenalkan sebuah program yang diberi nama “Sagu Sapo”, kepanjangan dari Satu Guru Satu Pohon di mana sebanyak 172 guru dari berbagai sekolah di Probolinggo diajak menanam satu pohon mangrove di pesisir pantai Probolinggo.
Selain guru, siswa-siswi di 20 sekolah ini juga diajak untuk menanam pohon, melalui gerakan “Samu Sapo” (Satu Murid Satu Pohon), yang mengikutsertakan 1.654 peserta.
“Selain penanaman pohon mangrove untuk tujuan konservasi alam, kesadaran untuk merawat alam dan lingkungan juga perlu dibentuk. Kebanyakan warga tahu cara membuat, namun sangat sukar untuk merawat,” kata Sunardi dalam berita pers PT Pertamina (Persero) yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu.
Menjawab tantangan ini, sebuah program bernama “Jumpa Berlian” atau Jumat Pagi Bersihkan Lingkungan Anda menjadi solusinya.
Melalui program ini, Sunardi mengajak siswa-siswi di Probolinggo untuk bekerjasama membersihkan lingkungan sekolah mereka.
Di samping kegiatan pelestarian dan kebersihan lingkungan dengan menggandeng berbagai sekolah di Probolinggo, Sunardi juga memprakarsai pembuatan peralatan tenaga surya yang mengalirkan energi listrik di berbagai sekolah.
Selain itu, dengan bekerja sama dengan warga sekitar yang banyak beternak sapi, Sunardi berhasil membuat biofuel yang dihasilkan oleh kotoran sapi, di mana 20 kilogram kotoran sapi dapat menghasilkan energi panas yang dapat digunakan untuk memasak skala besar selama tiga jam.
“Energi baru yang diciptakan ini harus dapat dinikmati masyarakat secara langsung dan juga ramah lingkungan. Pembinaan ke masyarakat dan berbagai sekolah merupakan sebuah tantangan yang besar di awal. Menciptakan pemahaman dan pemikiran yang sama menjadi kunci keberhasilan proyek ini,” katanya.
Pembuatan biofuel ini, kata dia, bisa menghasilkan penghematan tagihan listrik bulanan tiap sekolah.
“Semula, setiap sekolah harus membayar tagihan listrik Rp28 juta-Rp30 juta setiap bulannya. Kini, terjadi penurunan biaya hingga 42 persen menjadi Rp16 juta-Rp17 juta per bulan,” tuturnya.
Ia menyatakan bangga bahwa sejak 2010, kota Probolinggo telah dianugerahi gelar Kota Adiwiyata karena dinilai telah turut melaksanakan upaya-upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan generasi saat ini, maupun yang akan datang.
“Dahulu masih banyak sekolah yang kumuh, namun saat ini banyak sekolah yang sudah semakin hijau dan sebanyak 20 sekolah telah memenangkan Penghargaan Sekolah Adiwiyata,” ucap Sunardi.
Oleh

karena, komitmen dan kontribusi nyata ini, Sunardi dianugerahi penghargaan Local Hero kategori “Pertamina Cerdas” oleh PT. Pertamina (Persero), pada 2014 lalu.
Pertamina menilai bahwa apa yang telah dilakukan Sunardi sangat menginspirasi khalayak luas untuk mulai peduli terhadap lingkungan serta menciptakan energi baru terbarukan.
Untuk mendukung program ini, pada 2014, PT Pertamina (Persero) memberikan bantuan dana yang mendukung SMK Negeri 2 Probolinggo untuk menerima dan mengajar 87 siswa kurang mampu dari Papua dan melanjutkan kuliah.
“Ke depannya, sinergi dengan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah menjadi hal yang krusial untuk terus menumbuhkan kelompok-kelompok yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.(anjas)