Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Harga Daging “Meugang” Tembus Rp170 Ribu Perkilogram

0

     Meulaboh, Aceh, jurnalsumatra.com – Harga jual daging ternak besar (sapi dan kerbau) di pasar Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh mengalami kenaikan dari Rp130.000 perkilogram menjadi Rp170.000 perkilogram karena tingginya permintaan pada hari Meugang (hari motong) menyambut puasa Ramadhan 1437 Hijriah.
Salah seorang pedagang musiman di Jalan Daud Dariah II, Marzuki, di Meulaboh, Sabtu, mengatakan kenaikan harga daging ternak besar selalu terjadi pada saat menyambut puasa Ramadhan dan jelang lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.
“Hari ini Rp170 ribu perkilogram, malahan tadi pagi pukul 06.00 WIB ada sebagian yang menjual Rp180 ribu karena daging masih sangat segar sebab baru disembelih. Nanti siang tidak ada jaminan juga bisa turun,” katanya ditemui di lokasi pasar Bina Usaha Lhung Nak Nyee.

     Untuk Meugang menyambut puasa Ramadhan 1437 Hijriah, Pemkab Aceh Barat memusatkan tempat penjualan daging di Jalan Daut Dariah II, Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan di mana daging ternak dijual berjejer pada lapak kaki lima.
Sejak pukul 05.20 WIB, susana aktivitas pedagang dan keramaian pasar sudah terlihat dan hingga pukul 11.00 WIB, pembeli terus berdatangan dan berdesakan memadati sepanjang jalan Daud Dariah dengan harga daging Rp170.000 perkilogram.
Pada pekan lalu harga daging ternak besar Rp130.000 perkilogram, namun entah kenapa harga daging tiba-tiba mengalami kenaikan cukup drastis hingga mencapai Rp170.000 perkilogram pada hari Meugang.
“Kalau tahun lalu harga daging kalau tidak salah Rp130 ribu sampai Rp140 ribu, itu saat pagi, kemudian pada siangnya turun menjadi Rp110 ribu karena kondisi hujan, jadi harga daging ikut turun,”kata Agus, salah seorang pembeli yang ditemui di lokasi.

     Sementara itu Kepala Bidang Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) pada Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Aceh Barat Cut Titi Herawati Rahmah menyampaikan hal demikian sudah menjadi fenomena yang selalu terjadi memasuki hari sakral bagi masyarakat.
“Memang untuk hari ini itu tidak bisa diambil jadi patokan, padahal kemarin harganya Rp150 ribu, kemudian hari ini sudah Rp170 ribu. Tapi saya pikir menjelang sore nanti sudah turun bila sudah sepi pembeli,”katanya.
Cut Titi menjelaskan hasil rapat koordinasi bersama instansi terkait menyikapi hari Meugang, bahwa daerah setempat melakukan pemasokan daging impor dari Medan Sumatera Utara untuk menekan terjadi kenaikan harga pada hari H.

     Akan tetapi semua itu ternyata tidak mempan, malahan harga daging semakin tinggi karena ulah para pedagang yang dianggap mencari keuntungan lebih pada hari tersebut, karena masyarakat Aceh semuanya membeli daging menyambut puasa Ramadhan.
“Solusi apabila menghendaki harga daging tidak lagi demikian pemerintah harus berani memegang pasar. Kalaupun ada daging impor, setelah dihitung biaya pengiriman sama saja. Ini belum kita coba tapi ada daerah lain seperti di Padang yang sudah melakukan kebijakan seperti itu,” katanya menambahkan.(anjas)