Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Pengacara Ali Nangcik Minta Pelapor Hadirkan Bukti

0

PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Terlapor sengketa tanah, Ali Nangcik menghadap Kanit Subdit II Reskrimum Polda Sumsel guna diminta keterangannya dan mengklarifikasi dugaan perkara pengrusakan atau penyerobotan tanah yang terletak di kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang, Selasa (14/6).

Ali Nangcik (56) sebagai terlapor memenuhi panggilan Polda Sumsel guna mengklarifikasi laporan Ahmad Firdaus Iriansah bin Abdul Hamid dengan nomor LP/161/III/2016/SPKT Polda Sumsel tanggal 26 Maret 2016 dengan objek sengketa Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami Palembang.

M Joni Usman selaku Kuasa Hukum Ali Nangcik mengatakan kliennya memenuhi pangilan polda terkait dugaan penyerobotan tanah tersebut.

Dalam klarifikasi tersebut, pihak Ali Nangcik meminta pelopor menyerah bukti-bukti, karena pihaknya menduga surat tanah yang digunakan pelapor adalah tidak benar. Pelapor menurutnya hanya fokus pada obyek tanah yang dikuasi Ali Nangcik.

“Intinya kita minta bukti pelapor, dio gunoke surat menurut kito tidak benar, baik letak maupun batas-batasnyo. Besok dari pihak Polda akan hadir ke lokasi sengketa tempat klien kita untuk mengecek. Kita minta aparat penegak hukum harus jeli dan teliti dalam bukti laporan,” kata Joni.

Joni Usman mengatakan tanah seluas 32 ribu meter persegi yang dahulu letaknya di Kilometer 6 Sukabangun 2 masuk kedalam arah sebelah kanan dari Palembang ke Talang Betutu bagian Dusun Sukarami, Marga Talang Kelapa dan kini berganti nama menjadi jalan Sukawinatan Rt 68 Rw 10 Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarame Kota Palembang (Jalan Noerdin Pandji) tersebut merupakan tanah klienya yang didapat dari warisan turun-temurun sejak 1962 silam.

Pada 2012 tanah tersebut kemudian dilaporkan salah seorang yang diketahui bernama Arifin Daud ke Polresta Palembang. Menurut Joni, pelapor mengklaim tanah tersebut miliknya. “Pak Ali Nangcik dasar kepemilikannya SKT, tanggal 12 Juli 1962 nomor 54/K /SI/ 1962,” ujar Joni.

Atas laporan dengan dugaan penyerobotan tanah tersebut, terlapor Ali Nangcik mengaku memenuhi panggilan Polresta Palembang hingga pada akhirnya penyidik menyimpulkan laporan tersebut SP2HP atau perkara tersebut tidak bisa dilanjutkan karena masing-masing pihak memiliki bukti yang sah atas bidang tanah yanh dimiliki.

“Waktu kami selalu memenuhi panggilan Polresta Palembang. Dan Kesimpulan yang dikeluarkan penyidik SP2HP. Perkara ini tidak bisa dilanjutkan karena masing-masing pihak memiliki bukti yang sah atas bidang tanah yang dimiliki,” ungkap Joni.

Lanjutnya pelapor disarankan, jika kemudian hari ada bukti untuk mendukung penyidikan perkara dipersilahkan untuk mendatangi Reskrim Unit Harda.

“Tiba-tiba ada pelapor baru lagi M Rusdi Sario yang menurutnya kuasa hukum Arifin Daud. Kali ini laporannya ke Polda. Ali Nangcik disangkakan memindah tangankan benda tidak bergerak seolah-olah miliknya (menyerobot tanah) dengan cara menggunakan surat palsu, memalsukan surat dan pengrusakan secara bersama-sama. Pasal yang disangkakan Pasal 266, 263, 170, 385 KUHP,” jelasnya.

Selain memenuhi panggilan dari Polda ujar Joni, pihaknya juga mencoba mengklarifikasi sengketa tanah tersebut dengan menyampaikan jika persoalan tanah juga sempat diperkarakan di Polresta Palembang dengan kesimpulan SP2HP.

“Kami minta klarifikasi penghentian dengan menyampaikan kejanggalan-kejanggalan yang kami temukan, tapi ternyata dapat surat panggilan sebagai tersangka. Surat panggilannya nomor SP.Gil/900/V/2016/Dit Reskrimum tertanggal 9 Mei 2016,” pungkasnya. (Rn)