Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Konsumsi Daging Sapi Warga Kota Malang Menurun

0

     Malang, jurnalsumatra.com – Tingkat konsumsi daging sapi warga Kota Malang dalam beberapa bulan terakhir ini menurun akibat harga daging yang terus naik, bahkan saat ini mencapai Rp115 ribu per kilogram.
Direktur Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang, Jawa Timur Joko Sudadi di Malang, Kamis, mengakui adanya penurunan tingkat konsumsi daging sapi di lingkungan masyarakat. “Penurunan konsumsi ini bisa kita pantau lewat penyembelihan sapi setiap harinya yang dilakukan di RPH,” katanya.
Ia mengemukakan dalam beberapa bulan terakhir ini penyembelihan sapi di RPH rata-rata sebanyak 35 ekor hingga 40 ekor per hari, padahal sebelumnya bisa mencapai 50 ekor hingga 60 ekor per hari. Sementara kebutuhan daging masyarakat mencapai sekitra 70 ekor sapi per hari.
Akan tetapi, lanjutnya, dalam beberapa bulan terakhir ini mengalami penurunan karena daya beli masyarakat menurun, termasuk para pedagang bakso. Mereka banyak yang beralih ke bakso daging ayam.
“Penurunan tingkat konsumsi masyarakat ini lebih banyak disebabkan harga daging yang mahal. Masyarakat yang biasanya mengkonsumsi daging juga banyak yang beralih mengkonsumsi ikan laut atau lainnya,” ujarnya.

     Menurut Joko, sebenarnya stok sapi di wilayah Malang cukup banyak dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Namun, karena harga daging mahal dan masyarakat banyak yang beralih ke daging ayam atau ikan laut, para jagal lebih memilih mengurangi penyembelihannya daripada tidak laku di pasaran dan akhirnya membusuk.
Menyinggung peningkatan permintaan menjelang Lebaran 2016, Joko mengatakan biasanya pada H-6 atau H-5 Lebaran, permintaan konsumen mulai meningkat. Pada tahun-tahun sebelumnya setiap hari rata-rata RPH menyembelih sapi hampir 200 ekor.
“Namun, untuk tahun ini kami belum bisa memastikan, apakah tetap seperti tahun lalu atau meningkat, bahkan menurun seperti kondisi sehari-hari,” urainya.
Mengenai pengaruh adanya daging sapi impor yang digelontor di pasaran, Joko mengaku masyarakat tidak begitu menyukainya karena jika dipakai bakso tidak bisa seperti daging lokal, baik rasa maupun tingkat kekenyalannya.
“Daging sapi impor itu merupakan daging CL (kandungan lemaknya tinggi) dan rata-rata dalam bentuk beku, sehingga kurang disukai masyarakat,” katanya.
Seharusnya, kata Joko, kalau pemerintah berniat impor daging, bukan dagingnya yang diimpor, tetapi sapinya, sehingga daging yang dijual di masyarakat tetap segar dan kegiatan ekonomi di hulu juga tidak berhenti.
“Kalau yang diimpor sapinya, proses penggemukan tetap jalan, jagal-jagal juga tetap penghasilan. Kalau dagingnya yang diimpor, yang untung besar hanya distributornya, sedangkan perekonomian di hulu tidak jalan,” urainya.(anjas)