Nilai Impor Jambi Turun 19,70 Persen

0

Jambi, jurnalsumatra.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Provinsi Jambi untuk April 2016 mengalami penurunan sebesar 19,70 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari 3,29 juta dolar AS pada Maret menjadi 2,64 juta dolar AS di April 2016.
“Nilai impor Jambi turun akibat dipicu oleh penurunan impor bahan kimia dan sejenisnya dimana impor tersebut melewati tiga pelabuhan utama di Jambi yaitu pelabuhan Talang Duku Jambi, Muara Sabak dan Kuala Tungkal,” kata Kepala BPS Jambi, Dadang Hardiawan di Jambi Jumat.
Bila dilihat perannya secara kumulatif sejak Januari hingga April 2016, nilai impor mesin dan alat angkutan kontribusinya sebanyak 40,63 persen dari total impor diikuti peran hasil industri 29,77 persen.
Impor bahan kimia dan sejenisnya berperan mencapai 27,71 persen. Untuk kelompok komoditas makanan dan sejenisnya sebesar 1,25 persen dan kelompok komoditas karet dan sejenisnya hanya berperan di bawah satu persen yaitu 0,64 persen.
Dilihat dari perkembangan nilai impor Provinsi Jambi pada April 2016 dari negara-negara pengimpor utama. Transaksi impor yang mengalami persentase penurunan signifikan adalah Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, Tiongkok dan India.
Sedangkan kenaikan impor terjadi dari negara Jepang dan Taiwan. Nilai impor terbesar Januari hingga April 2016 berasal dari Tiongkok mencapai 8,34 juta dolar.
Bila dilihat dari perannya terhadap total impor Provinsi Jambi, maka Tiongkok mempunyai peran terbesar yaitu sebesar 40,67 persen, Singapura 6,00 persen dan Australia 3,17 persen.
Nilai impor Provinsi Jambi menurut golongan penggunaan barang pada April 2016, dari kelompok bahan baku dan penolong sebesar 2,38 juta dolar AS, diikuti oleh impor barang konsumsi 204,70 ribu dolar AS, sedang impor barang-barang modal 61,71 ribu dolar AS.
Struktur nilai impor Provinsi Jambi pada Januari-April 2016 mengalami perubahan bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2015. Pada periode Januari-April 2015, nilai impornya didominasi oleh bahan baku dan penolong sebesar 70,79 persen.
Sedangkan untuk barang barang modal sebesar 25,66 persen dan barang-barang konsumsi sebesar 3,55 persen.
Pada periode Januari hingga April 2016 di dominasi oleh bahan baku dan penolong sebesar 72,15 persen, barang modal 24,25 persen dan barang-barang konsumsi 3,60 persen, kata Dadang.(anjas)

Share.

About Author