Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


PTPN VII Rampas Tanah Warga Secara Brutal

0
warga vs ptpn

PTPN VII Rampas Tanah Warga Secara Brutal

Palembang,‎ jurnalsumatra.com – Perampasan Tanah(konflik agraria & SDA) dan penipuan yang dilakukan PTPN VII beringin dari tahun 1983 – Sekarang kepada masyarakat Desa Sumber Mulya, Pagar Dewa, di Kecmatan Rambang Lubai kabupaten Muara Enim Propinsi Sumatera Selatan, dengan lahan berkonflik seluas 1.414 Hektar. MEMAKAN KORBAN KRIMINALISASI SAMPAI BERKALI – KALI.

Konflik bermula ketika PTPN VII beringin masuk ke Desa Pagar Dewa dan Sumber Mulya tahun 1983, memaksa petani menyerahkan tanahnya dengan berbagai cara :

Pernyataan pak Arsah bin serah yang menjabat penasehat/tokoh masyarakat Persatuan Masyarakat Pribumi Lubai yang juga adalah korban dari kebrutalan PTPN VII Beringin.

Tahun  1974 masyarakat desa Sumber Mulya dan Pagar dewa hidup tentram dengan bertanam sayur-sayuran, bersawah padi dan berkebun ubi.

Lahan yang secara turun menurun sampai beberapa generasi betul-betul dimanfaati oleh masyarakat guna menghidupi anak beserta istri dan keluarga.

Bukti sejarah masyarakat pernah menggarap lahan tersebut secara turun temurun adalah Ada tanaman lain selain tanaman perusahaan yang ditanam masyarakat. Terdapat makam leluhur ditengah kebun perusahaan. Masih adanya pemukiman warga didalam areal perkebunan.

Namun semenjak perusahaan masuk dengan iming-iming janji dan intimidasi, kemiskinan terjadi di desa setempat, karena lahan yang dimiliki kini habis dan tak cukup untuk menghidupi anak-anak beserta istri. Bahkan rumah dan lahan 2 hektar yang diberikan oleh perusahaan harus di angsur sampai dengan 7 tahun ketitika setiap panen karet lewat program plasmanya. Penikmat program itu hanya orang 200 kk dari 700 kk desa Sumber Mulya dan Pagar Dewa.

Rismaludin Pimpinan Petani Desa Pagar Dewa memimpin masyarakat untuk melawan dan mengambil tahan dia kembali. tahun 2000, ketika pemerintahan rezim Orde Baru tumbang. Masyarakat mendatangi kades, camat, bupati dan langsung ke PTPN VII beringin, tapi tidak ada juga tanggapan, hanya secarcik kertas surat dari bupati Muara Enim dengan No: 593/2097/I/2000 tentang permasalah lahan agar segera di selesaikan.

Namun pihak perusahaan tak juga mau menyelesaikan persoalan itu, akhirnya tahun 2003 masyarakat melapor ke lembaga Ombusman Nasional, BPN RI, tapi hanya balas berbalas surat dan tidak ada tindak lanjut penyelesaiaan kongkrit.

Tanggal 9 Agustus 2006, masyarakat Desa pagar Dewa dan Sumber Mulya mengirim kembali sutar kepada Bupati Muara Enim prihal kebohongan pihak perusahaan PTPN VII beringin yang tak juga menepati janjinya soal plasma dan bantuan yang lainnya seperti surat yang terlampir, tapi tetap juga tidak ada realisasinya.

Melihat persoalan tidak juga di tuntaskan, maka tahun 2012, masyarakat desa Sumber mulya dan pagar dewa di pimpin Rismaludin memutuskan untuk Aksi Reklaiming di lokasi Perkebunan PTPN VII beringin Afdiling III dan V. Dan akhirnya 2 oarang masyarakat di kriminalisasi dan di jebloskan penjara selama 2 tahun dengan. Sesampai habis masa tahanan, tahun 2015 mereka turun lagi ke lahan, lagi Rismaludin di jebloskan ke penjara, dengan tuduhan pengancaman, padahal faktanya, Rismaludinlah yang di keroyok oleh pihak preman dan karyawan PTPN VII beringin. Akhirnya Rismaludin dihukum oleh penjara 1 tahun.

Tahun 2016 selesai masa hukuman, ketika keluar dari lapas, hari itu juga Rismaludin di jemput lagi dan di jebloskan di penjara polres muara enim, dengan tuduhan percobaan pencurian. Namun pada bulan April, melalui pendamping hokum FDR, Rismaludin berhasil mendapatkan penagguhan penahanan. Sampai sekarang pun, konflik belum terselesaikan.‎(ardi anang)