Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD Ramadhan


Ponpes Lebak Kembangkan Pengajian Kebangsaan Tangkas Radikalisme

0

    Lebak, jurnalsumatra.com – Pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan pengajian wawasan kebangsaan untuk menangkas ajaran radikalisme maupun kekerasan.
“Pengajian wawasan kebangsaan itu agar para santri atau peserta didik memahami nilai-nilai cinta tanah air sendiri, juga mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” kata Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kabupaten Lebak Asep Sunandar di Lebak, Jumat.
Pengembangan pengajian wawasan kebangsaan tersebut diintegrasikan dengan pengetahuan ketauhidan dalam proses mengajar juga akhlak dan adab atau saling menghormati serta menghargai.
Selama ini, kata Asep, terbukti ponpes di Kabupaten Lebak tidak ditemukan ajaran radikalisme.
Dia mengatakan kehadiran ponpes menyumbangkan pemikiran-pemikiran untuk kemajuan bangsa dan negara agar kehidupan masyarakat sejahtera.
Saat ini banyak para alumni ponpes menjadi pengusaha, kyai, ustad, aparat sipil negara (ASN), Polisi, TNI dan politikus.

    Karena itu, kata Asep, pihaknya mendorong ponpes terus mengembangkan pengajian wawasan kebangsaan untuk  membentuk karakter yang mencintai tanah air dan nilai-nilai empat pilar kebangsaan.
“Kami yakin negara akan kuat jika warganya sudah mencintai tanah air sendiri,” katanya.
Menurut dia, pihaknya menjamin keberadaan ponpes di Lebak tidak ada satupun yang mengajarkan radikalisme atau kekerasan.
Sebab tindakan kekerasan tidak mencerminkan jiwa santri juga haram menurut ajaran Islam, kata Asep.
Saat ini, ujar dia, jumlah ponpes di Lebak tercatat 1.122  terdiri dari dikelola secara salafi dan modern tersebar di 28 kecamatan.
Seluruh pengelola ponpes yang ada dikelola oleh masyarakat dengan menggunakan kurikulum Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional.
Pendidikan ponpes salafi mengutamakan pembelajaran nilai-nilai pendidikan keagamaan, seperti tafsir Al Quran, hadits, fiqih, Bahasa Arab, akhlak, akidah dan sejarah Islam.
Namun sistem pengajaran ponpes modern dipadukan dengan penerapan Bahasa Inggris, Matematika, PKN, Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika dan lainnya.

    “Kami memberikan apresiasi kehadiran ponpes dapat membantu peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan indeks pembangunan manusia (IPM) daerah,” katanya.
Ia menjelaskan sejauh ini sistem kurikulum pendidikan ponpes salafi tidak ditemukan pengajaran kekerasan dan radikalisme.
Disamping itu juga ponpes di Kabupaten Lebak sudah membudaya karena masyarakatnya sangat religius.
“Hampir setiap desa/kelurahan di Lebak memiliki ponpes salafi,” katanya.
Ia menyebutkan pihaknya setiap tahun juga melakukan pembinaan kepada pengurus ponpes untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pembinaan tersebut dalam upaya meningkatkan SDM umat agar pendidikan Islam menjadikan wahana pembangunan yang dapat mensejahterakan masyarakat.
“Kami optimistis ponpes di sini cukup besar dalam membangun pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan itu,” ujarnya.
Sementara itu, seorang pengelola Ponpes di Kecamatan Rangkasbitung, KH Badrudin mengaku dirinya mendirikan lembaga pendidikan keagamaan karena panggilan sebagai anak bangsa dengan memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat.
“Seluruh siswa di sini kebanyakan orangtua mereka dari keluarga tidak mampu ekonomi. Kami tidak memungut biaya pendidikan dan hanya dikenakan sistem suka rela,” katanya.(anjas)