DISHUTBUN Lebak Berupaya Tingkatkan Produksi Jamur Tiram

0

Lebak, jurnalsumatra.com – Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak Banten berupaya meningkatkan produksi jamur tiram di empat kelompok usaha yang tersebar di empat desa guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah itu.
“Kami menargetkan ke depan Lebak menjadi sentra penghasil jamur tiram,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak, Kosim Ansori di Lebak, Selasa.
Peningkatan produksi jamur tiram tersebut, selain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi juga untuk menyediakan lapangan pekerjaan kepada masyarakat.
Selain itu juga untuk mendukung kebijakan program “Lebak Sejahtera” untuk mengurangi kemiskinan terstuktur di daerah itu.
Bantuan peningkatan produksi tersebut dibiayai oleh APBD Lebak tahun 2016.
Pemerintah berkomitmen memberikan bantuan bagi empat kelompok usaha budi daya jamur tiram sehingga dapat menyumbangkan pertumbuhan ekonomi pedesaan.
Bantuan usaha itu antara lain kepada kelompok pengrajin jamur tiram Desa Tambak Baya Kecamatan Cibadak, Desa Kolelet Wetan Kecamatan Rangkasbitung, Desa Cilegong Ilir Kecamatan Banjarsari dan Desa Sukaraja Kecamatan Malingping.
Para pengrajin tersebut bertekad meningkatkan produksi dan produktivitas dan  bisa memenuhi permintaan pasar lokal hingga nasional.
Produksi jamur tiram yang menggunakan bahan baku dari serbuk gergajian itu, selain menembus Pasar Rangkasbitung, Pandeglang, Serang juga Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang dan Jakarta.
Mereka memasok jamur tiram mencapai puluhan kilogram per hari dan pendapatan mereka pun meningkat. “Kami yakin usaha jamur tiram itu dapat menyejahterakan masyarakat pedesaan,” kata Kosim Ansori.
Ia mengatakan saat ini harga jamur tiram di tingkat penampung sebesar Rp10.000 per kg, namun produksinya belum mampu memenuhi permintaan pasar.
Karena itu, pihaknya memberikan bantuan kepada kelompok pengrajin jamur tiram agar produksinya meningkat sehingga dapat mendorong peningkatakan kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, peluang usaha itu cukup besar karena permintaan pasar cukup tinggi dan pengrajin jamur tiram Kabupaten Lebak belum mampu memenuhi kebutuhan pasar itu.
“Kami berharap budi daya jamur tiram itu dapat menjadi sumber pendapatan tetap bagi masyarakat,” katanya.
Toto (45), seorang pelaku usaha jamur tiram di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak mengatakan setiap harinya penjualan jamur tiram mencapai Rp30 juta dari sebanyak 30 kelompok usaha di sejumlah desa di Kecamatan Kalanganyar.
Sebanyak 30 kelompok usaha pembudi daya jamur tiram itu diperkirakan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 111 orang, dengan pendapatan rata-rata Rp1 juta per kelompok per harinya.
Dari produksi binaan itu, kata dia, dirinya setiap hari menampung jamur tiram dengan harga Rp10.000 per kilogram.
“Selama ini budi daya jamur tiram cukup bagus dan bisa memenuhi pasar lokal hingga Tangerang,” katanya.
Ia mengatakan budi daya jamur tiram sejak 2006 hingga kini belum pernah mengalami kendala, baik produksi maupun pemasaran sebab produksi jamur tiram dengan menggunakan bahan baku yang berkualitas, sehingga permintaan pasar cukup tinggi.
“Kami memberikan apresiasi dengan bantuan pemerintah daerah itu sehingga dapat meningkatkan usaha budi daya jamur tiram,” ujarnya.
Saman (50), perajin budi daya jamur tiram warga Kecamatan Cibadak mengaku bahwa dirinya mendapatkan penghasilan dari penjualan jamur tiram mencapai Rp1 juta per hari.
Pihaknya memiliki binaan perajin budi daya jamur tiram sebanyak 10 kelompok di sejumlah desa di Kecamatan Cibadak.
“Selama ini budi daya jamur tiram cukup bagus dan bisa meningkatkan pendapatan warga,” katanya.(anjas)

Share.