Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Memperpanjang Kartu PWI Oknum Wartawan Minta Duit ke Kades

0

unnamed (51)KAYUAGUNG, jurnalsumatra.com – Sebanyak tujuh orang kepala desa dari dua kecamatan yakni SP Padang dan Kayuagung mendatangi Polres Ogan Komering Ilir (OKI) untuk melaporkan Oknum wartawan yang kerap meneror mereka dan meminta sejumlah uang.

 Menurut informasi, oknum tersebut, berdalih butuh dana untuk melakukan perpanjangan kartu anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kedua oknum wartawan dari salah satu surat kabar di Kabupaten OKI minta uang kepada sejumlah kepala desa dengan nada sedikit mengancam.

Hal ini terkuak saat tujuh orang Kepala Desa yang berasal dari Kecamatan SP Padang dan Kota Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan mendatangi kantor Polres OKI, guna melaporkan kedua oknum wartawan yang diduga melakukan pemerasan dan perbuatan yang tidak menyenangkan kepada sejumlah kepala desa.

Salah satu kades yang ikut melaporkan oknum wartawan tersebut mengatakan, bahwa dirinya bersama enam orang kades lainnya merasa resah dengan kehadiran oknum wartawan yang sering meminta sejumlah uang kepadanya dan kades lainnya.

“Saya dan keenam kades lainnya merasa resah dengan kehadiran wartawan yang bernama Abas dan Tarmizi karena sering mengganggu kerja aparatur desa dengan cara menakut-nakuti kalau pembangunan desa ada markup dan akan diberitakan dengan nada yang ujung-ujungnya meminta sejumlah uang untuk transfort dan lain sebagainya,” ujar salah satu kades yang namanya enggan disebutkan.

Bahkan kata kades tersebut beberapa waktu lalu kedua oknum wartawan itu pernah menemui dirinya dan mereka mengatakan kalau ingin ke Palembang dan butuh uang guna memperpanjang kartu anggota PWI. “Kamini nak memperpanjang kartu PWI yang sudah mati itu harganya Rp 750ribu per KTA berarti orang dua Rp 1,5juta,”ujar kades yang menirukan perkataan kedua wartawan tersebut.

Karena tidak ingin memperpanjang kades memberi uang kepada wartawan tersebut Rp 100ribu. Namun, mereka menolak kemudian ditambahlagi Rp 100ribu. “Saya tidak ingin ribut jadi mereka saya kasih uang Rp 100ribu, tapi mereka menolak karena terlalu sedikit dan saya tambah Rp 100ribu lagi. Dan salah satu dari mereka yang bernama Tarmizi berkata kalau uang tersebut hanya untuk teman saya ini, dan saya tidak mau menerima uang kecil besok lusa saya kesini lagi,”jelas kades tersebut.

Kades tersebut berharap, kepada organisasi yang menaungi wartawan untuk dapat memberikan teguran keras terhadap oknum yang bersangkutan karena ini jelas merusak citra pers itu sendiri. “Saya banyak kenal dengan wartawan tapi mereka tidak pernah meminta uang kesaya mereka ingin informasi ya saya kasih yang ini beda dengan yang lain, kesannya kades ini sebagai ATM,”ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, ketua PWI Perwakilan Kabupaten OKI, Endri Irawan melalui Sekretaris PWI, Idham Syarief mengatakan, kalau PWI tidak pernah memungut uang sepeserpun dari anggota yang ingin memperpanjang kartu anggotanya yang harus dibayar itu adalah iuran bulanan. “Perlu digaris bawahi dalam proses pembuatan KTA tidak dipungut biaya alias gratis yang dipungut itu iuran bulanan. Bisa jadi mereka tidak pernah membayar iuran setiap bulannya sehingga diakumulasi selama 3 tahun jadi besar,”ungkapnya.

Terkait kasus yang dilakukan kedua oknum wartawan tersebut itu sudah masuk keranah hukum untuk itu, kita melakukan pendampingan terhadap kades karena belum cukup bukti maka laporannya ditunda. Namun demikian dirinya akan segera melakukan komunikasi kepada PWI Sumsel tindakan apa yang akan diambil terhadap kedua wartawan tersebut. “Jelas apa yang mereka lakukan ini sudah mencoreng citra wartawan dan akan kita konsultasikan ke PWI Sumsel tindakan apa yang akan kita lakukan bisa jadi berupa pemecatan dari anggota PWI,”terangnya.

Sementara itu, Abas salah satu wartawan yang dituduh melakukan pemerasan tersebut menyangkal bahwa dirinya meminta uang kepada kades untuk memperpanjang kartu PWI akan tetapi dirinya tidak menampik kalau menanyakan masalah alokasi dana desa (ADD) kepada kades. (RICO)