Bupati Purwakarta Lunasi Biaya Pemulangan TKI “Overstay”

0

    Purwakarta, jurnalsumatra.com – Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi melunasi biaya pemulangan seorang tenaga kerja Indonesia “overstay” asal Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Yanti binti Taslim dari Arab Saudi.
“Kami sudah berkoordinasi dan akhirnya TKI (tenaga kerja Indonesia) itu bisa dipulangkan ke Tanah Air,” katanya di Purwakarta, Jumat.
Ia mengaku harus mengeluarkan uang untuk memulangkan Yanti. Di antaranya harus membayar seluruh biaya pengobatan, denda keimigrasian dan lain-lain.
“Total biaya yang dikeluarkan untuk pemulangan Rp136 Juta. Pada Kamis (18/8), sudah diselesaikan pembayarannya dengan menggunakan biaya non-APBD,” kata dia.
Yanti, warga Purwakarta itu diketahui berangkat ke Arab Saudi untuk menjadi TKI pada tahun 2009 dengan menggunakan Kartu Tanda Penduduk daerah lain.
Itu terjadi karena sejak 2008 Purwakarta telah menerapkan moratorium pengiriman TKI ke luar negeri.

    Informasi yang berhasil dihimpun Humas Pemkab Purwakarta, Yanti menderita penyakit liver disertai pembengkakan pada bagian perut dan kaki.
Akibat penyakit yang dideritanya ini, Yanti harus dirawat di Rumah Sakit Rafa Medical Center Jeddah Saudi Arabia.
Kemalangan Yanti tidak berhenti sampai di situ karena berstatus sebagai TKI “overstayer” atau menyalahi izin tinggal yang sudah ditetapkan pihak Imigrasi di sana.
Kondisi itu mengakibatkan Yanti lama dirawat di rumah sakit, tanpa perlindungan Imigrasi. Santi Ayu Ardhani, teman sesama TKI, kemudian menyampaikan hal yang dialami Yanti kepada Bupati Purwakarta melalui akun media sosialnya, facebook.
Menerima laporan tersebut, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi langsung berkoordinasi dengan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid. Ikhtiar bupati membuahkan hasil.
Tak lama setelah itu, dia menerima surat dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah Fadhly Ahmad yang menyatakan Yanti binti Taslim telah memperoleh “Exit Permit” dan siap dipulangkan ke Indonesia dengan catatan harus membayar biaya pengobatan dan denda keimigrasian.
“Saya menerima keluhan dan sudah berkoordinasi dan akhirnya TKI itu (Yanti) bisa dipulangkan. Tentu kami harus membayar seluruh biaya pengobatan dan denda keimigrasian dengan totalnya Rp136 Juta,” kata dia.
Dedi berharap kasus yang dialami Yanti itu menjadi kasus TKI terakhir di Purwakarta karena pihaknya telah lama melakukan moratorium pengiriman TKI ke luar negeri.
“Semoga saja tidak ada warga Purwakarta yang menjadi TKI, apalagi sampai berangkat ke luar negeri dengan cara membuat KTP daerah lain,” katanya.(anjas)