Abdiyanto Minta Pemerintah Setempat Tindak Aksi Pemalakan

0

AbdiyantoFikriKAYUAGUNG, jurnalsumatra.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel, Abdiyanto Fikri, SH mengecam aksi premanisme yang meresahkan masyarakat yang melintasi jalan diperbatasan Desa Air Rumbai dan perbatasan Desa Rambai Kecamatan Pangkalan lampam  serta  diperbatasan Desa Riding dan Desa Jerambah Rengas Kecamatan Tulung Selapan.

Menurut Abdiyanto, ini sudah berlangsung lama bahkan mereka ini bikin posko keamanan seakan-akan mereka ini legal.

“Kita berharap pemerintah desa setempat bisa melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian kalau memang tujuannya baik harus dibina akan tetapi kalau memang sudah meresahkan masyarakat apalagi ada unsure pemaksaan ya harus dibinasakan,”ujar Abdiyanto Minggu (28/8).

Hal ini menyusul banyaknya keluhan masyarakat yang kerap melintasi jalan di empat desa tersebut karena sering dilakukan pememalakan dan dipintai sejumlah uang dengan cara paksa oleh oknum yang diduga preman.

Masih kata Abdiyanto, disatu sisi alasan mereka ini bagus karena di daerah itu sering terjadi pembegalan tapi disisi lain mereka ini sudah meresahkan apalagi meminta sejumlah uang bahkan sampai Rp 50ribu setiap pengendara yang lewat. “Seharusnya jangan ada unsure pemaksaan berapapu orang mau ngasih ya diterima jangan mematok harga Rp50ribu kan kasihan masyarakat setiap lewat harus bayar,”cetusnya.

Terkait permasalahan ini kata Abdianto, dirinya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak kepolisian setempat guna menindak lanjuti aksi pemalakan itu jangan sampai masyarakat merasa resah. “Yang kita khawatirkan ini terjadi pembegalan gaya baru,”jelasnya.

Menurut masyarakat setempat aksi pemalakan ini berdalih untuk melindungi dan memberikan keamanan kepada masyarakat dari perampok, Bahkan para preman ini mendirikan Pos Keamanan di setiap perbatasan desa yang dihuni oleh tiga orang sampai enam orang setiap pos

“Mereka mewajibkan para pengguna jalan untuk memberikan uang yang diminta mulai dari Rp.10ribu hingga Rp.50ribu. Apabila masyarakat yang lewat tidak memberikan uang maka para preman ini akan memberhentikan kendaraan secara paksa serta tidak segan-segan menggunakan kekerasan kepada mereka yang tidak memberikan uang,”ungkap salah satu sumber.

Sumber yang mengalami sendiri kejadian tersebut mengaku diberhentikan secara paksa oleh dua orang preman yang berada dalam pos dan meminta uang sebesar Rp.20.000,- sebagai jasa keamanan karena telah melintas. “Dengan terpaksa saya memberikanya takut di apa-apakan oleh preman tersebut dan melanjutkan perjalanan pulang ke tulung selapan,”ungkapnya. (ata)

 

Share.

About Author