Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Tagana: Banjir Genangi Sejumlah Wilayah Banyumas

0

     Purwokerto, jurnalsumatra.com – Banjir menggenangi sejumlah desa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, akibat hujan lebat yang terjadi sejak Jumat (16/9) malam, kata Komandan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyumas Heriyana Adi Chandra.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, bencana banjir menggenangi Desa Karanggedang, Kecamatan Sumpiuh, dan Desa Sawangan, Kecamatan Kebasen,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu.
Menurut dia, pihaknya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas sedang pendataan rumah-rumah warga yang terdampak banjir.
Banjir di Desa Karanggedang terjadi akibat luapan Sungai Kalireja dan menggenangi sedikitnya 76 rumah warga di lingkungan RW 04 dengan tinggi genangan air sekitar 20 centimeter.
Sementara di Desa Sawangan, banjir menggenangi halaman rumah warga di lingkungan RT 01 RW 01, RT 02 RW 02, dan RT 01 RW 02 dengan tinggi genangan air sekitar 50 centimeter.
Selain bencana banjir, kata Heriana, tanah longsor juga terjadi di Grumbul Kroya RT 04 RW 02, Desa Besuki, Kecamatan Lumbir, pada pukul 05.30 WIB.

     “Longsor itu terjadi pada jalan rabat beton di belakang rumah Pak Karsono (40) akibat kondisi tanah yang labil dan hujan lebat. Tinggi longsoran tanah sekitar 3 meter dengan panjang sekitar 4 meter dan mengenai pagar atau dinding dapur rumah Pak Karsono, sedangkan kondisi jalan rabat betonnya retak-retak,” katanya.
Menurut dia, masyarakat setempat bersama personel Koramil Lumbir telah bekerja bakti menyingkirkan material longsoran.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan hujan yang terjadi sejak Jumat (16/9) malam hingga Sabtu (18/9) tergolong ekstrem karena mencapai di atas 100 milimeter.
“Misalnya di Cilacap tercatat mencapai 113,5 milimeter dan di Jeruklegi 123,9 milimeter,” katanya.
Selain karena masih adanya pengaruh La Nina, kata dia, hujan ekstrem terjadi akibat anomali suhu permukaan laut cukup hangat sehingga berpeluang terbentuk awan-awan hujan, dipole mode negatif yang mengakibatkan Pulau Jawa mendapat suplai uap air dari Samudra Hindia, dan pengaruh dari daerah pusat tekanan rendah di Samudra Hindia barat daya Sumatra.(anjas)