Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


PEMKOT Palembang lanjutkan program pemberantasan buta aksar

0

Palembang ,jurnalsumatra.com- Pemerinhtah Kota Palembang, Sumatera Selatan berupaya melanjutkan program pemberantasan buta aksara yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir karena masih ditemukan cukup banyak warga kota yang tidak bisa membaca dan menulis.

“Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) hingga kini masih ada 1.000 lebih warga kota ini buta aksara/buta huruf, meskipun data tersebut jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Sekretaris Daerah Palembang Harobin Mustafa, di Palembang, Kamis.

Menurut dia, program pemberantasan buta aksara yang dilakukan di kota ini menunjukkan keberhasilan yang tinggi terbukti jumlahnya dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan yang cukup drastis.

Keberhasilan itu akan dilanjutkan dengan program-prpgram yang lebih baik sehingga jumlahnya bisa terus diminimalkan dan dalam waktu yang tidak lama warga kota ini bisa terbebas dari buta aksara dan memiliki kontribusi yang besar dalam mewujudkan program pembangunan Palembag EMAS 2018.

Program yang dapat meminimalkan jumlah warga Palembang buta aksara seperti kelompok belajar, pelatihan belajar membaca dan menulis, dan taman pintar akan dikembangkan di 17 kecamatan yang ada di kota ini, kata Harobin.

Dia menjelaskan, sekarang ini pemerintah kota telah memberikan kesempatan yang besar kepada warga untuk mendapatkan pendidikan terutama di tingkat dasar dengan menerapkan program sekolah gratis.

Dengan fasilitas sekolah gratis dan sejumlah program pemberantasan buta aksara yang disiapkan sekarang ini diharapkan warga Bumi Sriwijaya ini segera terbebas dari “buta huruf” dan memiliki wawasan yang tinggi karena dapat mengikuti perkembangan informasi melalui kemampuan membaca, ujar sekda.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo menyatakan pihaknya terus berupaya meminimalkan jumlah masyarakat buta aksara yang dalam beberapa tahun terakhir angkanya berhasil diturunkan secara drastis.

Jumlah masyarakat yang mengalami buta aksara sebelumnya mencapai ratusan ribu orang, namun kini jumlahnya bisa diminimalkan menjadi sekitar 90 ribu orang dengan usia rata-rata di atas 15-59 tahun.

“Untuk belajar membaca dan menulis tidak ada kata terlambat, dengan kemauan yang tinggi dapat terbebas dari buta aksara dan masyarakat bisa memanfaatkan kemampuan membaca dan menulis untuk meningkatkan pengetahuan serta taraf hidup,” ujar Widodo.(anjas)