Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


BKSDA-Aspinall Lepas Liarkan Tujuh Lutung Jawa       

0

Malang, jurnalsumatra.com – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan The Aspinall Foundation Indonesia Program melepasliarkan tujuh ekor lutung Jawa (trachypetecus auratus) di Blok Sumur Pitu, RPH Sumbermanjing Kulon, Malang, Jawa Timur.
Manajer Program Javan Langur Centre The Aspinall Foundation Indonesia Iwan Kurniawan di Malang, Sabtu, mengatakan prosesi pelepasliaran dilakukan dalam dua tahap yakni pada Jumat (30/9) dan Sabtu (1/10).
Dua tahap itu, kata Iwan, dimulai dengan sekelompok satwa dilindungi pertama dipimpin satu ekor lutung Jawa jantan berwarna oranye yang diberi nama Eman dengan anggota kelompok terdiri dari tiga ekor lutung betina.
Kelompok kedua dipimpin seekor lutung jantan hitam keabu-abuan dengan anggota kelompok terdiri dari dua ekor lutung betina.
“Sebelum dilepasliarkan, tujuh lutung Jawa itu terlebih dulu menjalani pemeriksaan kesehatan dan proses rehabilitasi selama 6-12 bulan di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa, Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur.
Selama di tempat rehabilitasi, lanjut Iwan, ketujuh lutung Jawa juga telah diberi suntikan vaksin influenza.
“Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyakit sekaligus memperkuat daya tahan tubuh lutung Jawa saat menjalani proses pelepasliaran,” katanya.
Iwan Kurniawan menjelaskan terhitung sejak 2012 program “Javan Langur Centre” The Aspinal Foundation Indonesia sudah melepaskan lutung sebanyak tujuh kali hingga pelepasan lutung pada Jumat (30/9).
Dari survei habitat yang dilakukan The Aspinall Foundation Indonesia Program pada 2015 di RPH Sumbermanjing Kulon, tercatat sedikitnya 104 jenis tumbuhan dan 85 persen merupakan makanan lutung Jawa, sehingga kawasan tersebut sangat cocok untuk areal pelepasan lutung Jawa.
“Kami akan melepasliarkan lutung Jawa ini di habitatnya yang cocok yakni di RPH Sumbermanjing Kulon” kata Iwan.
Sementara itu dari data yang dihimpun Javan Langur Centre (JLC) diketahui bahwa lutung Jawa yang merupakan satwa primata pemakan daun endemik yang hanya tersebar di Jawa tersebut populasinya dinilai rentan.
Hal ini karena jumlahnya terus menurun lebih dari 30 persen sejak beberapa beberapa tahun terakhir akibat penangkapan untuk perdagangan satwa, perburuan dan makin berkurangnya habitat.
“Padahal kelangsungan hidup lutung Jawa sangat tergantung dengan keutuhan hutan tropis, baik di pegunungan, dataran rendah hingga pesisir,” katanya.
Selama kurun 2003-2014 di daerah Banyuwangi, Jember, Malang dan Mojokerto juga ditemukan kasus perburuan lutung Jawa yang diburu untuk diambil dagingnya.
Hasil investigasi The Aspinall Foundation Indonesia Program mendapati fakta bahwa daging lutung Jawa hasil perburuan ilegal itu sebagian dikonsumsi untuk campuran daging bakso, makanan pendamping minuman keras dan obat sesak nafas.(anjas)