Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Intip Tradisi Unik Di Ranah Minang

0

rumah-padangPadang, jurnalsumatra.com – Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki keragaman budaya serta tradisi lokal ialah Sumatera Barat. Tak ayal, banyak para pelancong yang kerap memasukan wilayah ini ke dalam daftar destinasi tempat liburan yang wajib di kunjungi.

Selain memiliki keragaman budaya yang unik, faktor lain yang menarik wisatawan berkunjung ke kota asal makanan rendang ini ialah mudahnya lokasi yang dituju. Jika Anda berada di luar Pulau Sumatera, penerbangan menuju Bandara Internasional Minangkabau menjadi pintu awalnya.

Berbagai rute penerbangan pesawat pun tersedia. Mudahnya, Anda pun tinggal berselancar di dunia maya untuk mendapatkan tiket menuju kesana. Harga tiket yang ditawarkan antar maskapai penerbangan pun bersaing. Dalam situasi tersebut, Anda pun harus pintar-pintar memilih guna mendapatkan harga terbaik.

Tak ada salahnya memanfaatkan fasilitas Lion Air Booking dengan harga tiket terbaik. Selain mudah memesannya, Anda pun bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya yang diberikan oleh pihak Lion Air. Dengan memilih maskapai penerbangan yang baik dipastikan liburan Anda ke Kota Padang tak bakal terlupakan.

Berikut tradisi unik masyarakat Minang yang wajib Anda kunjungi selama berada di kota yang masyarakatnya dikenal relijius ini.

  1. Marosok

Disaat kebanyakan orang menggunakan tv, radio, koran hingga media online untuk melakukan transaksi jual beli, ternyata masih ada saja transaksi serupa yang terbilang unik yang berasal dari ranah minang.

Adalah marosok, sebuah tradisi jual beli yang dilakukan secara “sembunyi” antara penjual dan pembeli di pasar ternak yang ada di Kabupaten Solok, Kabupaten Padang Pariaman hingga Kabupaten Tanah Datar. Dalam transaksinya, mereka menggunakan sarung, baju hingga topi sebagai penutup jemari tangan yang mengganti komunikasi suara.

Tiap jemari sendiri mengartikan nominal puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan rupiah. Misalnya saja, jika lima setengah juta rupiah maka si jari pembeli akan digenggam lima buah oleh si penjual yang berarti seharga lima juta rupiah dan dilanjutkan dengan menggenggam lima buah jari lagi yang berarti lima juta lima ratus ribu rupiah. Jika kedua belah pihak sepakat, maka anggukan kepala mengakhiri transaksi tersebut.

Sapi, kerbau dan kambing merupakan hewan ternak yang diperjualbelikan. Konon, tradisi unik satu ini telah dilakukan sejak zaman raja-raja Minangkabau. Dengan melakukan cara bertransaksi ini diharapkan dapat menghindari kesenjangan harga antara pembeli yang satu dengan pembeli lainnya.

  1. Tradisi Berburu Babi Hutan

Dulunya, tradisi ini muncul lantaran lahan persawahan dan perkebunan milik warga setempat selalu dirusak kawanan babi hutan. Situasi tersebut terus berulang dan membuat geram sehingga warga memutuskan untuk memburu hewan tersebut.

Awalnya, warga setempat memburu babi masih menggunakan jaring dan ranjau. Namun cara tersebut dirasa kurang efektif hingga pad akhirnya secara tidak sengaja melibatkan hewan peliharaan anjing untuk membantu menaklukan kawanan babi.

Tradisi berburu babi dilakukan rutin oleh masyarakat minang, bahkan telah berkembang hingga ke wilayah tetangga seperti Riau dan Jambi. Sekedar mengetahui, tradisi ini telah berlangsung lebih dari sepuluh abad silam.

Namun belakang, tradisi berburu babi mulai bergeser menjadi hobi masyarakat minang. Bahkan setiap minggunya mereka rutin melakukan perburuan. Anjing-anjing yang “ditugaskan” berburu tersebut pun tak jarang mendapat perawatan istimewa dari sang pemilik agar dapat berburu babi hutan lebih banyak.

  1. Pacu Jawi

Tradisi balapan Pacu Jawi yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat masih serupa dengan tradisi karapan sapi di Madura. Namun yang membedakan adalah tempat berlangsungnya atraksi dimana jika karapan sapi dilakukan di tanah kering. Sebaliknya, Pacu Jawi dilakukan di tanah berlumpur di areal persawahan bekas panen padi.

Pada prinsipnya, balapan Pacu Jawi sendiri seperti kegiatan membajak sawah secara tradisional menggunakan hewan kerbau atau sapi. Namun yang membedakan, atraksi ini “dipimpin” oleh seorang joki yang bertugas mengendarai sepasang sapi yang diapit alat pembajak sawah sambil memegangi tali dan kedua ekor hewan tersebut.

Ketika atraksi ini dimulai, Anda akan melihat sang joki menggigit ekor sapi. Cara tersebut bertujuan agar sapi berlari kencang hingga ke garis finish. Semakin kencang, joki menggigit ekor sapi semakin kencang pula hewan ini berlari.

Tradisi unik ini masih dapat Anda temui di wilayah Tanah Datar dan Lima Puluh Kota. Bahkan, banyak wisatawan domestik dan mancanegara kerap berkunjung ke Sumatera Barat untuk melihat dan mencoba langsung.(febriyansyah)