Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Sleman Gencarkan Program “Three End” Menuju KLA

0

     Sleman, jurnalsumatra.com – Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menggencarkan program “three end” menuju sebagai Kabupaten Layak Anak.
“Program ‘three end’ ini, meliputi akhiri kekerasan terhadap anak dan perempuan, akhiri perdagangan manusia, dan akhiri kesenjangan ekonomi di masyarakat,” kata Kepala BKBPMPP Sleman Nurul Hayah di Sleman, Kamis.
Menurut dia, langkah tersebut sebagai upaya untuk menciptakan Kabupaten Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA).
“Dalam mendukung upaya tersebut, kami saat ini telah membentuk Forum Penanganan Korban Kekerasan di tingkat kecamatan. Forum tersebut dibentuk untuk mengawasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap jenis-jenis kekerasan yang bisa terjadi di tengah keluarga,” katanya.

     Ia mengatakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Kabupaten Sleman sulit untuk diinventarisasi karena kesadaran masayarakat terkait dengan kekerasan masih rendah.
“Banyak di antara mereka yang tidak menyadari telah melakukan atau menjadi korban kekerasan. Baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan secara psikis,” katanya.
Nurul mengatakan kasus kekerasan yang saat ini sudah ditangani UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak ( P2TP2A) pada 2015 sebanyak 539 kejadian.
Namun, diperkirakan jumlah kasus kekerasan sebenarnya masih jauh lebih tinggi dari angka tersebut.
“Jenis kekerasan yang sering dirasakan oleh perempuan dan anak berupa fisik dan psikis. Di antaranya ‘bullying’, pelecehan seksual, pemukulan, dan perdagangan manusia,” katanya.
Ia mengatakan indikasi suatu kekerasan terletak pada perasaan si penerima perlakuan.
“Indikasinya kalau seseorang merasa tidak nyaman baru bisa dikatakan kekerasan. Kalau dicubit suami tapi istrinya merasa nyaman-nyaman saja, ya itu bukan sebuah kekerasan,” katanya.
Kekerasan, katanya, juga tidak hanya terjadi pada perempuan dan anak, karena pada kehidupan sehari-hari, seorang suami tak jarang menerima perlakuan buruk dari pasangan hidupnya.
“Jadi laki-laki atau suami juga bisa melaporkan kekerasan yang ia rasakan pada UPT P2TP2A. Nanti kami akan berusaha mendampingi korban untuk menyelesaikan masalahnya,” katanya.(anjas)