Selebriti Cafe Mansion Herman Deru DPRD


Urgensi Pendidikan Karakter Bangsa Di Sekolah

0

Alamsari dilahirkan di Ngulak, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan pada tanggal 17 November 1984. Anak keempat dari delapan bersaudara ini tinggal di Jalan SMA 13 Rt 29 Rw 06 No. 2841 KM 11 Palembang 30154. Saat ini aktif dalam kepengurusan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP Bahasa Indonesia, Ogan Ilir. . Hp. 082282102472. E-mail: [email protected]

“Ketika kehilangan kekayaan, Anda tidak kehilangan apa-apa. Ketika kehilangan kesehatan, Anda kehilangan sesuatu. Ketika kehilangan karakter, Anda kehilangan segala-galanya” (Billy Graham)

Konon katanya guru-guru di negara barat tidak khawatir jika muridnya tidak pintar matematika namun mereka justru khawatir manakala muridnya tidak bisa mengantre dengan tertib dan rapi. Dalam buku berjudul Pendidikan Karakter di Sekolah dikisahkan bahwa pada tahun 1962 seorang tenaga ahli dari Korea Selatan pernah datang ke Indonesia. Ketika itu dia sangat kagum dengan kemajuan Indonesia yang begitu pesat. Tiga puluh tahun berikutnya dia berkesempatan datang kembali ke Indonesia. Dia melihat bahwa Indonesia yang dahulu begitu maju kini telah tertinggal jauh dari negaranya. Dia mencoba mencari tahu mengapa perkembangan Indonesia kini justru kalah dengan Korea Selatan. Dari hasil pengamatannya ternyata Indonesia memiliki tiga masalah besar. Masalah pertama adalah “pendidikan”, masalah kedua adalah “pendidikan”, dan masalah ketiga adalah “pendidikan”.

Mengapa pendidikan? Pendidikan adalah satu-satunya cara untuk menciptakan manusia yang berkualitas. Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara pernah berkata bahwa pendidikan adalah alat untuk menciptakan kematangan jiwa yang akan mewujudkan hidup dan penghidupan yang tertib dan bermanfaat bagi orang lain. Ketika suatu negara tidak memperhatikan pendidikan, artinya negara itu sedang menciptakan kehancuran bagi dirinya.

Mari bernostalgia ke-era 1990-an. Saat itu, saya masih bersekolah SD. Pada masa itu, anak-anak seusia kami berlomba-lomba untuk membantu seorang nenek yang ingin menyeberang jalan. Di dalam bus kota, kami berlomba-lomba untuk mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk dan kami rela untuk berdiri. Waktu itu, pendidikan di sekolah dapat dikatakan berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang berkarakter bangsa. Kontras sekali dengan kondisi sekarang. Sering saya naik bus kota ketika berangkat kerja. Saat itu bus kota penuh dengan penumpang yang kebanyakan adalah anak sekolah. Saya perhatikan ketika seseorang yang lebih tua berdiri, hampir tak ada siswa yang mempersilakan orang tersebut untuk duduk. Kalaupun ada hanya satu atau dua siswa saja. Sisanya seolah-olah tidak tahu dan asyik bercengkarama dengan teman duduknya.

Arus globalisasi yang begitu cepat masuk ke Indonesia telah memudarkan karakter bangsa pada anak didik kita. Krisis karakter telah begitu nyata. Pendidikan di sekolah telah berhasil menciptakan generasi dengan kecerdasan tinggi namun kering dengan nilai moral. Akibatnya banyak dijumpai orang pintar namun korupsi. Banyak orang pandai namun bejat akhlaknya. Banyak orang berpendidikan namun sikapnya seperti preman. Banyak orang yang telah kehilangan keindonesiannya. Mengaku berbineka tunggal ika namun saling hina antar satu dan lainnya. Banyak orang yang tahu arti kebaikan namun justru melakukan perbuatan sebaliknya.

Kurikulum dan Pendidikan Karakter Bangsa

Apa itu karakter bangsa? Dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa tahun 2010—2025, telah dijelaskan bahwa karakter bangsa adalah karakter yang dimiliki oleh seseorang yang mencerminkan kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia berlandaskan nilai-nilai Pancasila, norma UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI.

Tahun 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meluncurkan Kurikulum 2013 sebagai pengganti Kurikulum KTSP. Salah satu perbedaan menonjol diantara keduanya adalah jika KTSP hanya mementingkan penilaian ranah kognitif dan keterampilan dalam penilaiannya maka dalam Kurikulum 2013 penilaian mencakup tiga ranah yakni, afektif (sikap), kognitif, dan keterampilan. Bahkan penilaian sikap menjadi poin penting yang dapat menjadi pertimbangan untuk penentuan kelulusan.

Hakikat Kurikulum 2013 adalah sebagai upaya pembenahan terhadap karakter kebangsaan pada anak didik yang semakin hari semakin terdegradasi. Pemerintah sadar betul bahwa satu-satunya cara yang efektif untuk mengembalikan karakter bangsa dalam jiwa anak-anak kita adalah dengan melalui pendidikan. Hanya pendidikanlah yang mampu mengubah karakter buruk seseorang menjadi karakter yang baik dan hanya pendidikanlah yang dapat menjangkau siswa secara luas dan masif.

Apa yang menjadi fokus sentral pada Kurikulum 2013 tersebut tak lain adalah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 telah disebutkan secara jelas bahwa “Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Cita-cita pendidikan nasional tersebut tentu saja harus menjadi perhatian serius dari semua pihak utamanya pemerintah dan guru. Pemerintah haruslah menjamin terselenggaranya pendidikan sesuai kurikulum sedangkan guru bertugas melaksanakan kurikulum dengan sebaik-baiknya.

Kurikulum 2013 adalah momentum tepat untuk mengembalikan pendidikan ke muaranya. Pendidikan karakter harus diintegrasikan dalam semua mata pelajaran di semua jenjang pendidikan. Setiap guru punya tanggung jawab untuk menumbuhkan dan membentuk karakter kebangsaan pada siswa. Mengajarkan kejujuran, ketakwaan, tenggang rasa, gotong royong, nasionalis, dan karakter pancasilais lainnya. Setiap guru harus memastikan pendidikan karakter berjalan sebagaimana mustinya. Tentu untuk menjamin pendidikan karakter tersebut tentu membutuhkan komitmen dari guru sebagai pelaku utama keberhasilan pendidikan. Guru terlebih dahulu harus memberikan contoh suriteladan yang baik pada anak didiknya. Guru terlebih dahulu harus mengamalkan karakter kabangsaan dalam perilaku kesehariannya—sebab karakter bukanlah masalah teori, bukan pula hanya sekedar omongan belaka namun karakter adalah masalah keteladanan dan aksi nyata. Karakter adalah perihal pembiasaan yang berkesinambungan.

Di sisi lain, pendidikan karakter kebangsaan harus pula dlakukan dalam bentuk lain seperti pembinaan kesiswaan di luar jam sekolah. Tujuannya adalah sebagai pemantapan dalam hal pengenalan nilai, memberikan keteladanan, kesadaran, dan sebagai sarana penginternailsasian nilai kebangsaan tersebut ke dalam tingkah laku seharu-hari peserta didik. Bentuknya dapat bermacam-macam seperti melaksanakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja (PMR), Paskibaraka, Rohis, dan kegiatan lain yang bermanfaat.

Di Singapura, orang yang membuang sampah sembarangan akan dianggap melakukan perbuatan yang tercela. Di Jepang, orang yang menyerobot antrean dianggap sebagai perbuatan nista. Bandingkan dengan negara kita. Lumrah kita temui orang membuang sampah sembarangan bahkan di jalan raya sekalipun. Dimana ada antrean panjang pasti disitu ada keributan karena orang-orang saling berebut antrean. Perilaku seseorang menggambarkan karakternya. Perilaku yang baik tentulah menggambarkan karakter orang tersebut yang juga baik.

Presiden Soekarno dalam pidatonya pernah berkata ‘Kesejahteraan suatu bangsa bergantung dengan karakter warga negaranya”. Untuk itu dirasa perlu melakukan revolusi karakter secara besar-besaran. Sudah saatnya pendidikan karakter diberlakukan dan diterapkan dengan sebaik-baiknya. Dimulai dari diri sendiri dan saat ini. Pada akhirnya semoga melalui pendidikan karakter bangsa dapat menjadikan generasi penerus bangsa sebagai generasi emas yang dibanggakan tidak hanya intelektualnya namun dibanggakan karena kepribadian dan karakternya. Amin!