24 Mahasiswa UGM Asal Papua Tunggu Beasiswa

    Jayapura, jurnalsumatra.com  – Sebanyak  24 mahasiswa asal Papua yang sedang tugas belajar S2 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, menunggu kelanjutan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua yang sempat terhenti tanpa alasan jelas.
Yorgen Wally, salah satu mahasiswa jurusan Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) kampus UGM, ketika dikonfirmasi Antara dari Kota Jayapura, Sabtu, mengakui ia bersama belasan rekan-rekannya terpaksa menunda wisuda karena beasiswa yang dinantikan tidak kunjung cair, sementara untuk menjalani wisuda harus melunasi biaya-biaya yang disyaratkan.
“Seharusnya kami semua sudah wisuda S2 jurusan MEP di UGM pada 24 Januari 2018, tetapi beasiswa yang diharapkan tidak sampai ke tangan kami,” kata Yorgen dengan nada mengeluh.
Menurut dia, kuliah atau tugas belajar S2 di UGM berdasarkan SK Gubernur Nomor 902/105/Tahun 2015 tanggal 25 tentang penetapan indeks biaya pendidikan bagi mahasiswa/pegawai tugas belajar Provinsi Papua.
Juga didukung dengan SK Gubernur Provinsi Papua dengan nomor 826.1.777 tertanggal 25 April 2016 tentang penetapan sebagai mahasiswa tuga belajar program S2 konsentrasi manajemen keuangan dan aset daerah, kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dengan MEP UGM Yogyakarta tahun 2016.

“Saya tepaksa jadi juru parkir untuk menambah biaya hidup. Padahal sewaktu kami akan berangkat kuliah ke Yogyakarta, mulai dari biaya tiket, tanggungan hidup untuk dua orang, serta biaya lain-lainnya selama kuliah hingga wisuda ditanggung Pemprov Papua,” kata Yorgen.
Hal senada diungkapkan Williams, rekan Yorgen sesama mahasiswa S2 MEP UGM, bahwa bersama puluhan mahasiswa asal Papua mulai kuliah pada 1 Januari 2016 dan seharusnya 24 Januari 2018 selesai kuliah.
Hanya saja, akibat terkendala pembayaran biaya wisuda dan lain-lain, akhirnya belum bisa diwisuda.
“Di UGM dalam setahun bisa empat kali wisuda, yakni pada Januari, April, Juli dan Oktober. Yang jadi persoalan biaya kuliah/wisuda pada April tahun ini siapa yang tanggung, lalu kalau tertunda terus bisa saja kami dikeluarkan,” katanya dengan nada kecewa.
Yorgen dan Williams berharap persoalan yang dialami bersama puluhan rekan lainnya di UGM tidak terulang di kemudian hari dan diperlukan pengawasan dan evaluasi setiap program beasiswa yang diberikan, sehingga tidak ada lagi mahasiswa atau tugas belajar yang tertunda kuliah/wisuda karena biaya yang dijanjikan.
Sementara itu, sejumlah pihak terkait yang dikonfirmasi Antara, diantaranya kepada pegawai di bagian BPSDM Provinsi Papua yang mengurus tentang beasiswa, menyebutkan bahwa dana/beasiswa yang dimaksud telah dibayarkan.
“Soal beasiswa memang ada kendala, tapi sudah diteruskan di bagian keuangan. Ada baiknya Pak Wartawan bisa bertemu dengan pimpinan kami,” kata seorang staf di BPSDM Pemprov Papua.(anjas)

Leave a Reply