Ahli: Tingkatkan Pelestarian Ekosistem Terumbu Karang Karimunjawa

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Ahli ekologi Munasik yang juga Sekretaris Departemen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro mendorong peningkatan pelestarian ekosistem terumbu karang.
“Sebaran kerusakan di pulau-pulau kecil yang ditunjukkan oleh  persentase tutupan pecahan karang ditemukan merata di semua sisi pulau,” kata Munasik dalam diskusi “Hasil Inventarisasi Kerusakan Terumbu Karang dan Lamun” yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta,  Jumat.
Munasik melakukan pengamatan yang didukung kementerian itu pada sejumlah pulau di Kepulauan Karimunjawa. Hasil pengamatan di tiga pulau di dalam dan di luar Taman Nasional Karimunjawa (TNK) menunjukkan terdapat kerusakan fisik secara konsisten.
Kerusakan itu kemungkinan diakibatkan oleh pemanfaatan perikanan yang tidak ramah lingkungan pada 10 hingga 20 tahun terakhir seperti adanya aktivitas pengangkapan muroami.
Kini muroami sudah tidak beroperasi lagi akan tetapi bekas kerusakan masih ada.
Penyebab lain antara lain adalah pemanfaatan wisata, melalui pembuangan jangkar. Sementara penangkapan saat ini adalah dengan “spear gun”, untuk menangkap ikan karnivora maupun herbivora. Contohnya, Pulau Cemara besar saat ini menjadi lokasi penangkapan dengan cara menembak.
Dia juga menambahkan tingginya permintaan konsumsi wisatawa mendorong meningkatnya penangkapan ikan di dalam kawasan TNKJ.
“Kegiatan perikanan muroami akan berakibat terhadap kerusakan fisik terumbu karang berupa pecahan karang,” ujarnya.
Menurut Campbell (2010), setiap kali penangkapan muroami mengakibatkan 0,11 persen kerusakan fisik sebanding dengan kerusakan fisik akibat jangkar atau kapal. Kerusakan diakibatkan oleh injakan kaki nelayan, tali penggiring ikan, dan cincin penghalau ikan serta jaring.

    Setiap pengoperasian jaring muroami akan menyapu area seluas 2,4 ha atau 80×300 meter persegi.
Ancaman kerusakan terumbu karang Karimunijawa ditunjukkan di antaranya oleh melimpahnya bulu babi pengamatan. Kelimpahan tertinggi di Pulau Seruni di luar TNK, dan terendah di Pulau Bengkoang. Hal itu kemungkinan telah terjadi akibat peningkatan eutrofikasi dí kepulauan itu.
Semakin dekat dengan daerah pemukiman gangguan secara kimiawi semakin meningkat akibat limbah rumah tangga.
Hasil studi Zainal et al. (2014) mengungkapkan terumbu karang di dekat pemukiman Karimunjawa telah terpapar eutrofikasi akibat peningkatan kandungan nitrat dan fosfat di perairan yang telah melampaui baku mutu.
Munasik mengatakan promosi kunjungan wisata telah meningkatkán kunjungan wisata di Karimunjawa sehingga mengubah kehidupan dan lingkungan pesisirnya.
Sementara, kurangnya pengetahuan dan kesadaran pelaku wisata dan wisatawan akan mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang dan padang lamun, misalnya, sampah plastik banyak ditemukan di perairan lokasi wisata.
“Masyarakat sudah mengetahui peningkatan pencemaran dari sampah kegiatan wisata dan beberapa upaya sudah dilakukan akan tetapi rendahnya pendidikan dan kesadaran lingkungan serta kebiasaan buruk menjadi kendala utama,” ujarnya.
Oleh karena itu, sosialisasi kepada masyarakat untuk pelestarian terumbu karang dan lamun harus ditingkatkan.
Dia juga menuturkan peran pemerintah dan akademisi dalam penyelamatan lingkungan di Karimunjawa sangat diperlukan.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 10 =