AMNT Diduga Tahan Barang Bekas Milik Pengusaha Surabaya

     Mataram, jurnalsumatra.com – PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), sebelumnya dikenal sebagai PT Newmont Nusa Tenggara, diduga telah menahan sisa barang bekas yang dibeli seorang pengusaha asal Surabaya, Budi Haryanto.
“Jadi, barang bekas yang sudah menjadi hak kami ini tidak boleh diambil oleh AMNT,” kata Budi Haryanto di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan, pembelian barang bekas jenis “general scrap” ini dilakukan Budi Haryanto melalui proses lelang yang saat itu  tambang batu hijau di Pulau Sumbawa tersebut masih di bawah pengelolaan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).
Bekerja sama dengan PT Sinar Tubalong Mandiri (PT STM), Budi Haryanto kemudian memenangi tender proyek pembelian barang bekas sebanyak 7.000 ton dengan nilai sekitar Rp7,89 miliar.
“Karena dalam tendernya ada aturan harus memberdayakan perusahaan lokal, kami sebagai pemodal bekerja sama dengan perusahaan lokal STM,” ujarnya.
Kesepakatan kontraknya juga telah ditandatangani bersama PT NNT dengan nomor SA 1503/001, tertanggal 1 Desember 2015, dengan klausul tambahan batas akhir dari kesepakatannya sampai 30 Juli 2017.
Bahkan, kata dia, setelah PT NNT berubah menjadi PT AMNT, perjanjian tersebut dikatakan tetap berlaku. Dengan kata lain, meskipun material barang bekas itu beralih tanggung jawab ke PT AMNT, namun perjanjiannya yang telah dibubuhkan dengan PT NNT tetap berlaku.
Setelah tender itu dimenangkan, Budi melalui PT STM melakukan pembayaran dari harga barang bekas yang telah tertuang dalam kesepakatan kontrak.

     “Desember 2015 itu langsung kami bayar lunas. Setelah dilunasi, kami melakukan pengangkutan bertahap,” ucapnya.
Pengangkutan tahap pertama, katanya, dilakukan pada tahun 2016 dengan jumlah 4.553 ton bernilai sekitar  Rp5,13 miliar.
“Sisanya sebanyak 2.446 ton dengan nilai sekitar Rp2,75 miliar akan kami angkut belakangan,” kata Budi.
Namun ketika akan mengangkut di tahap kedua, pihaknya menerima email dari PT AMNT pada 14 Mei 2018.
“Perusahaan AMNT menyampaikan bahwa perjanjian kontrak sudah berakhir dan telah melampaui batas akhir dari kesepakatan 30 Juli 2017,” ucapnya.
Meski demikian, lanjutnya, PT AMNT memberikan dua kemudahan. Pertama, PT AMNT menawarkan uang Rp2,7 miliar kembali dengan utuh ditambah bunga deposito per tahun dari harga barang bekas tersebut.
Kemudian pilihan kedua, sisa barang bekas yang belum diangkut sebanyak 2.446 ton tetap bisa diambil dengan syarat PT STM harus menunjukkan dokumen yang diperlukan dalam pengangkutannya, seperti izin pemuatan barang (IPB).
Pihaknya diberi batas waktu sampai 28 Mei 2018 untuk menyatakan sikap. Jika tidak ada tanggapan, maka dianggap memilih opsi pertama, yakni uang dikembalikan.
“Kami tidak respons surat itu, artinya kami secara tidak langsung menjalankan opsi kedua. Bahkan sebelum diberi pilihan, dokumen saya sudah tidak ada masalah,” ucapnya.
Buktinya, kata dia, pada pengangkutan pertama sudah selesai. Kemudian IPB dan dokumen lainnya turut disertakan dalam pengangkutan pertama, bahkan pihaknya telah membayar pajak 2 persen ke negara dari nilai yang dibayarkan.
“Kalau opsi pertama yang berlaku, kenapa sampai dengan Oktober uang tak kunjung direalisasikan. Malah, PT AMNT mengutus pengacara menemui saya,” kata Budi.
Meski demikian, pada akhir Oktober 2018, pihaknya tetap mengirim kapal untuk mengangkut barang bekas tersebut dan menyandar di Pelabuhan Benete, milik PT AMNT.
Namun sampai dengan tanggal 10 November 2018 setelah 12 hari berlabuh di Pelabuhan Benete, pihaknya tidak diizinkan untuk mengangkut barang bekas yang sudah menjadi haknya tersebut.
“Petugas kami di sana dicegat sama ‘security’ PT AMNT, tidak boleh masuk,” katanya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 3 =