Anak Korban Gempa Palu Sekolah Di Probolinggo

     Probolinggo, jurnalsumatra.com – Tiga anak pasangan suami istri Muhammad Fika Rahardika dan Shinta Permatasari yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai masuk sekolah sementara di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Rabu.
Keluarga Muhammad Fika merupakan warga asal Kota Probolinggo yang pindah ke Kota Palu sejak 2009 karena yang bersangkutan mejadi aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditempatkan di Kota Palu, namun mereka mengungsi sementara ke kampung halamannya di Kota Probolinggo setelah terjadi gempa bumi dan tsunami.
“Mereka tidak perlu mengikuti sistem zonasi yang telah diterapkan di Kota Probolinggo karena merupakan korban bencana, sehingga kami masukkan jalur khusus dan boleh diluar zonasi sesuai yang dikehendaki orang tuanya,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Probolinggo, Kukuh Suryadi.
Pasutri Fika dan Shinta yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami Kota Palu memiliki tiga anak yakni Roro Kesya (12), Muhammad Naufal Kadafi (9), dan Roro Sabilillah (5) yang sekolah di Kota Palu.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kota Probolinggo, Budi Wahyu mengatakan beberapa sekolah di Kota Probolinggo sudah menerapkan kurikulum 13 (K-13), sehingga anak-anak korban gempa bumi tersebut memilih sekolah di SD Sukabumi 4 yang cenderung lebih terjangkau dan sudah menerapkan K-13.
“Yang penting anaknya sudah masuk sekolah hari ini, meskipun sifatnya sementara dan Disdikpora siap membantu. Kami antar langsung ke sekolahnya biar tidak ragu-ragu dan kurikulum sekolahnya disesuaikan dengan sekolah di Kota Palu,” ujarnya.

     Ia juga meminta Fika yang akan kembali ke Kota Palu sendirian karena tugas untuk melaporkan kepada sekolah anak-anaknya di sana bahwa anak-anaknya sementara bersekolah di Kota Probolinggo disertai membawa surat keterangan dari Disdikpora Kota Probolinggo.
“Kami juga minta koordinasi dengan sekolah di Palu, supaya didaftarkan ujiannya di sana karena anak pertamanya sudah kelas 6 SD. Kalau tidak didaftarkan, nanti tidak bisa ikut ujian di Kota Palu,” katanya.
Sementara Shinta Permatasari awalnya sempat kebingungan dengan pendidikan anak-anaknya setelah mengungsi sementara di Kota Probolinggo di rumah orang tuanya karena kondisi Kota Palu masih belum pulih dan anak-anaknya masih trauma.
“Bagaimana pun anak-anak harus melanjutkan sekolah karena saat ini kondisi di Kota Palu masih dalam tahap pemulihan, sehingga saya minta anak-anak untuk tetap bersekolah, meski hanya sementara di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Ia menjelaskan anak-anaknya sekolah di Kota Probolinggo hanya untuk sementara dan memulihkan kondisi mereka dari trauma, sehingga diperkirakan sekitar satu hingga dua bulan saja.
“Kemungkinan kami akan kembali ke Kota Palu menunggu kondisi Kota Palu sudah membaik dan yang paling penting yakni anak-anak sudah tidak trauma lagi, sehingga bisa kembali ke sana,” katanya.(anjas)

Leave a Reply