Anggota DPR: Perkuat Koordinasi Terkait Penanganan Bencana

Jakarta, jurnalsumatra.com – Anggota Komisi V DPR RI, Hamka Baco Kady menginginkan berbagai instansi pemerintah dapat memperkuat koordinasi terkait penanganan bencana alam di berbagai daerah seperti di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.
Hamka dalam rilis, Rabu, menilai bahwa Basarnas seharusnya bisa lebih mengorganisir pencarian dan penanganan korban bencana.
Menurut politisi Partai Golkar itu, perlu ada evaluasi sampai sejauh mana koordinasi kegiatan penyelamatan yang dilakukan oleh Basarnas.
Jika memang personel Basarnas tidak mencukupi, lanjutnya, maka disarankan agar dapat berkoordinasi dengan pihak lain, termasuk BNPB.
Sebagaimana diwartakan, Pemerintah telah melakukan sejumlah langkah untuk memperkuat koordinasi penanganan bencana alam secara terpadu dengan berbagai instansi terkait, seperti dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan mengemukakan bahwa BMKG sudah mendapatkan arahan dari pemerintah untuk memperbaharui peralatan seperti radar cuaca dan sistem peringatan dini (early warning system).
Selain itu, Menko Maritim juga mengingatkan kepada masyarakat agar buoy-buoy atau pelampung sistem peringatan dini jangan sampai dicuri karena akan fatal akibatnya dan dapat menimbulkan banyak korban jiwa, sehingga masyarakat harus mengetahui dan memahami hal itu.

Sementara itu, Kepala BMKG,  Dwi Korita Karnawati mendesak agar Indonesia dapat segera memiliki satelit khusus untuk memantau bencana karena kebutuhan teknologi ini sudah cukup mendesak.
Menurut Korita, posisi Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana alam membuat pemanfaatan teknologi satelit merupakan hal penting dalam rangka penanggulangan bencana.
“Harusnya bisa dipercepat karena bencananya tidak mau menunggu. Sudah saatnya (punya satelit bencana). Karena kita dengan kondisi bencana yang sangat beragam dan jutaan manusia yang tinggal (di daerah rawan bencana), perlu ada teknologi yang bisa mengamankan,” kata Korita di Jakarta, Senin (8/10).
Menurut dia, memiliki satelit bencana sangat penting agar data lebih mudah didapatkan dan dapat memprediksi terjadinya bencana sehingga jumlah korban bisa ditekan seminimal mungkin.
Ia mengakui pihaknya sudah memasang sensor pendeteksi gempa di sejumlah provinsi rawan gempa, namun peralatan ini tidak cukup memberikan data yang lengkap karena sensor tersebut bisa dalam keadaan rusak atau terjadi kegagalan dalam mengirimkan data ke pusat.
Karena itu, adanya satelit bencana penting untuk dapat dijadikan sebagai penyedia data tambahan selain data dari sensor tersebut.
“Seperti kasus di Palu, sensornya menyala, tidak rusak, tetapi gagal mengirim informasi. Kalau didukung  dengan satelit khusus, kan terdeteksi gelombangnya sampai mana,” katanya.
Selain kebutuhan yang mendesak untuk memiliki satelit pendeteksi bencana, menurut dia, hal lain yang perlu dilakukan adalah perbaikan pengelolaan tata ruang di kawasan rawan bencana.(anjas)

Leave a Reply