Atlet Olimpiade Ethiopia Yang Berada Di Pengasingan Akhirnya Pulang

Addis Ababa, Ethiopia, jurnalsumatra.com – Feyisa Lilesa, pelari peraih perak Olimpiade asal Ethiopia yang hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat sejak membuat gerakan protes terhadap kekerasan pemerintahnya pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, akhirnya pulang pada Minggu, menyusul terjadinya serangkaian reformasi di negara itu.
Feyisa Lilesa mengangkat lengannya di atas kepalanya, lalu menyilangkan pergelangan tangan usai mencapai finish di urutan kedua lari marathon di Olimpiade Rio de Janeiro.
Isyarat gerakan tangan tersebut adalah yang digunakan oleh pengunjuk rasa di wilayah Oromiya di Ethiopia, saat terjadi kerusuhan pada 2015-2017.
Pada Minggu, Menteri Luar Negeri Workneh Gebeyehu menerima Feyisa di bandara Addis Ababa, di mana kerabat – berpakaian tradisional pakaian dari wilayah Oromiya – dan para penggemar juga berkumpul untuk menyambutnya.
“Saya tahu akan datang harinya karena darah mereka yang tumpah tidak akan sia-sia, “katanya setelah tiba di bandara Addis Ababa.
Kerusuhan awalnya dipicu oleh protes terhadap rencana pemerintah untuk mengembangkan ibukota Addis Ababa, yang menurut pengunjuk rasa telah menyebabkan pengambilalihan lahan pertanian di wilayah sekitar Oromiya.
Ratusan orang kemudian dibunuh oleh pasukan keamanan karena demonstrasi berkembang menjadi aksi unjuk rasa politik oleh etnis Oromos yang merasa dimarjinalkan secara ekonomi.
Pada April lalu, koalisi EPRDF yang telah memerintah negara sejak 1991, menunjuk Abiy Ahmed – seorang etnis Oromo berusia 42 tahun – sebagai perdana menteri.

“Saya tahu kediktatoran akhirnya akan jatuh. Saya mengharapkan hari ini tetapi saya tidak tahu apakah itu akan terjadi menjadi hari ini atau besok, tapi sudah jelas bahwa saya akan kembali ke tanah ayah saya hidup-hidup,” katanya.
Selain berdamai dengan negara tetangga Eritrea, Abiy telah melakukan rekonsiliasi dengan kelompok pembangkang dan pemberontak, meskipun perubahan yang dilakukan sama sekali tidak menghentikan serangan kekerasan yang bermuatan etnis.
Setelah Rio, Feyisa yang berusia 28 tahun berkompetisi di sejumla event maraton dan memenangi beberapa diantaranya.
Dia menegaskan bahwa dia berencana untuk fokus di bidang olahraga.
“Saya masih bisa membawa hasil yang bagus untuk negara di bidang olahraga,” katanya.
“Saya dicintai oleh orang-orang karena saya seorang olahragawan, tidak karena saya seorang politikus.
Saya hanya membawa penderitaan mereka agar menjadi perhatian global dengan menggunakan profesi saya,” katanya menambahkan.(anjas)

Leave a Reply