Balikpapan Siapkan Sekolah Ramah Anak

     Balikpapan, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Balikpapan tengah menyiapkan sejumlah sekolah menjadi sekolah ramah anak (SRA).
“Kami lakukan bertahap, dimulai dengan 50 sekolah dulu di berbagai tingkatan, menyesuaikan dengan kondisi sarana prasarana yang ada di sekolah,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Balikpapan Muhaimin di Balikpapan, Jumat.
Hal tersebut dilakukan bertahap karena keterbatasan anggaran yang dimiliki Pemerintah Kota.
Menurut Kadisdik Muhaimin, konsep SRA adalah satu konsep yang harus diterapkan untuk mendapatkan predikat pembangunan berikutnya, yaitu kota ramah anak.
Secara singkat SRA adalah konsep yang bertujuan menjadikan anak nyaman dalam proses belajar mengajar di sekolah. Oleh sebab itu sekolah mesti aman, bersih, sehat, asri, dengan guru-guru dan teman-teman yang menghargai hak-hak anak.
Lingkungan semacam itu diharapkan memberi suasana belajar, di mana termasuk bermain di dalamnya, juga mengajar yang kondusif, yang pada gilirannya membuat siswa juga memaksimalkan potensi dirinya.

     Termasuk di dalamnya adalah mencegah anak menjadi perokok, apalagi pengguna narkoba. Yang ditanamkan kepada anak adalah kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti etos kerja keras, hingga antre dengan rapi dan sabar.
Menurut Kepala Disdik, sekolah di Balikpapan yang sudah memenuhi keseluruhan kriteria SRA adalah SD Bhayangkara dan sekolah-sekolah yang dikelola Yayasan Kontrak Production Sharing (KPS), yayasan yang didirikan perusahaan-perusahaan migas pemegang kontrak kerja sama penambangan minyak dan gas di Kalimantan Timur.         Namun demikian, Muhaimin menambahkan, urusan SRA ini ternyata bidang tugas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Disdik mengambil peran sebagai pendukung utama karena program ini menjadikan sekolah sebagai tempat kegiatannya.
Yang menjadi bagian Disdik adalah peningkatan sarana dan prasarana itu juga, termasuk peningkatan kualitas guru melalui berbagai program pelatihan. Anggaran untuk semua kegiatan itu ada di dinas pendidikan.
“Kalau di sekolah swasta ada tambahan partisipasi orangtua, jadi mungkin bisa lebih cepat di hal-hal tertentu,” katanya menambahkan.(anjas)

Leave a Reply