Belajar Kebijakan Publik Dari Surabaya

Surabaya, jurnalsumatra.com – Kota Surabaya, Jatim, tampaknya sudah bertransformasi menjadi kota bertaraf internasional. Salah satu indikatornya yakni makin derasnya antusiasme tamu dari luar negeri yang datang menggali ilmu di Surabaya.

  Salah satunya dari Kampus Lee Kuan Yew School of Public Policy yang ada di Singapura itu. Tak tanggung-tanggung, kampus yang menjadi bagian dari National University of Singapore (NUS) itu membawa total 76 anggota rombongan.

  Delegasi Lee Kuan Yew School of Public Policy terdiri dari 71 mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan S-2 jurusan kebijakan publik. Mereka didampingi 3 orang perwakilan akademisi dari kampus tersebut, plus 2 staf pembantu.

  Asisten Profesor Lee Kuan Yew School of Public Policy at National University of Singapore, Tan Soo Jie-Sheng mengatakan, rombongan mahasiswa belajar tentang kebijakan publik di Surabaya mulai 1-4 Desember 2019.

  Menurut dia, Surabaya dipilih karena berbagai prestasi internasional yang telah diraih di antaranya, sukses menyabet predikat Special Mention Lee Kuan Yew Award 2018. Selain itu, Surabaya dipandang sebagai kota terbaik dengan kebijakan publik yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

  Keaktifan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di berbagai organisasi maupun event internasional juga menjadi salah satu pertimbangan.

  Sebenarnya ini merupakan kunjungan kedua ke Surabaya untuk belajar. Tahun lalu, para mahasiswa NUS sangat antusias dan berhasil memetik pelajaran positif dari Surabaya. Oleh karenanya, tahun ini mereka kembali belajar dari Surabaya.

  Selain prestasi, faktor pemimpin juga menjadi pertimbangan Lee Kuan Yew School of Public Policy dalam menentukan lokasi tujuan belajar. Tan Soo Jie-Sheng mengatakan, Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya dianggap berhasil dalam mentransformasi konsep pembangunan di Surabaya.

  Perkembangan pembangunan di Kota Pahlawan sangat pesat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Itulah sebabnya, di hari pertama, rombongan sangat antusias mendengarkan paparan dari Wali Kota Risma di Co-Working Space Koridor, Siola, Surabaya, Minggu (2/12).

  Dia menyatakan pihaknya memiliki prinsip kalau ingin belajar harus dari yang terbaik, makanya belajar dari Surabaya dan Wali Kota Surabaya, baik kota maupun wali kotanya adalah yang terbaik saat ini.

  Pada kesempatan itu, lanjut dia, Risma berbagi banyak ilmu tentang kebijakan publik di Surabaya. Dijelaskan Risma, bahwa kebijakan pembangunan di Surabaya selalu berorientasi pada partisipasi masyarakat.

  Warga dilibatkan saat pengusulan pembangunan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang). Di situ, para pengurus kampung, meliputi perangkat RT dan RW bisa mengusulkan pembangunan yang menjadi kebutuhan masing-masing wilayah.

  Sedangkan dari sisi birokrasi, Pemkot Surabaya telah menerapkan e-government sejak 2002. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), maka pengeluaran dapat dipangkas secara signifikan sehingga penganggaran bisa lebih efisien.

  Di samping itu, penggunaan TIK juga untuk mengurangi peluang tatap muka, khususnya dalam hal pengurusan perizinan dan lelang paket pekerjaan. Dengan demikian, otomatis akan mempersempit ruang terjadinya tindak korupsi.

  Mahasiswa S-2 Lee Kuan Yew School of Public Policy, See Hao Jun mengaku senang bisa mendengar dan belajar langsung dari Risma. Sejak sebelum menginjakkan kaki di Surabaya, pemuda warga negara Singapura ini sudah penasaran dengan Suroboyo Bus.

  Menurut dia, Suroboyo Bus merupakan salah satu inovasi Risma yang diakui dunia. Sebab, bus itu dikonsep ramah lingkungan dengan menerima botol atau gelas plastik sebagai alat pembayaran. Suroboyo Bus merupakan upaya Pemkot Surabaya dalam mengontrol agar sampah plastik tidak keluar dari lingkupnya dan mencemari lingkungan.

  “Ini inovasi yang sangat bagus,” ujarnya.

  Hal senada juga diutarakan kolega See Hao Jun, Bethany Brice. Mahasiswi asal Amerika Serikat ini mengatakan bahwa Risma sebagai figur yang krusial dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi kota ini.

  Menurutnya, keunggulan Wali Kota Risma terletak pada kemampuannya dalam melibatkan partisipasi publik pada inovasi-inovasi yang dicetuskannya. Ia mengaku beruntung bisa belajar langsung dari Wali Kota Risma.

  “Saya berharap selama di Surabaya, bisa menggali lebih dalam lagi tentang karakter warga Surabaya dalam menjawab tantangan global,” kata Bethany.

  Level dunia

  Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku senang bisa berbagi ilmu dengan para mahasiswa dari luar negeri. Risma menilai, dengan makin banyaknya tamu dari luar negeri datang belajar ke Surabaya, itu tandanya kota ini semakin dikenal di kancah internasional.

  Risma berharap momentum ini juga dapat dimanfaatkan warga Surabaya, agar lebih termotivasi dalam menjawab tantangan global.

  Pemkot Suabaya sudah menyediakan rumah bahasa bagi yang mau belajar bahasa asing, serta kemudahan izin usaha, hingga co-working space Koridor bagi pelaku industri kreatif. Harapannya, dengan naiknya Surabaya di level dunia, juga diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM warganya.

  Wali Kota Risma sendiri juga sering memperkenalkan Kota Surabaya saat diundang ke luar negeri menjadi pembicara di forum-forum internasional. Tahun ini, Risma tercatat sembilan kali melakukan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan tersebut menyasar 11 negara tujuan.

  Seringnya Risma diundang sebagai pembicara di luar negeri menjadi bukti nyata pengakuan dunia atas keberhasilan transformasi pembangunan di Surabaya. Misalnya, pada 18-20 Februari 2019, Risma diundang ke Amerika Serikat oleh Presiden Majelis Umum PBB ke-73 dan Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) untuk menjadi pembicara terkait ketahanan pangan dan program urban farming.

  Serta pada 12-14 Juni 2019, Risma menyampaikan materi terkait penanganan limbah plastik di World Material Forum di Perancis. Pun demikian pada 24-26 September 2019, Risma diundang untuk menjadi pembicara dalam acara Sustainable Development Goals Summit and High Level Political Forum di New York, Amerika Serikat. Pada kesempatan itu, Risma juga berperan sebagai kontributor diskusi terkait penanganan dampak perubahan iklim dalam World Economic Forum.

  Kesediaan Risma menghadiri berbagai forum di luar negeri ternyata mengusung misi ganda yakni selain aktif sebagai pembicara juga untuk mempromosikan Surabaya di kancah internasional.

  Perjuangan ini tidak sia-sia. Buktinya, sejak 2011 hingga sekarang, Surabaya tak pernah absen menjadi tuan rumah forum atau pertemuan level internasional. Diawali dengan The First ASEAN Mayor Forum pada 2011, berlanjut dengan Senior Official Meeting (SOM) APEC pada 2013, Konferensi PrepCom 3 for Habitat III pada 2016, hingga Growing Up Urban Summit UNICEF dan The 7th UCLG ASPAC Congress pada 2018.

  Di samping itu, tak sedikit pula delegasi dari luar negeri yang berkunjung ke Kota Surabaya untuk mempelajari secara langsung berbagai inovasi pembangunan yang telah dilakukan, sebagaimana yang mereka ketahui dari paparan yang disampaikan Risma di luar negeri.

  Forum-forum internasional tersebut telah menyedot ribuan peserta. Dengan demikian, sektor
  perhotelan, restoran, hingga kuliner dan oleh-oleh juga mendapat angin segar. Hal itu tentu berdampak pula pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) yang ujung-ujungnya juga digunakan untuk pembangunan kota.(anjas)