BI Sumsel Perkuat Pertumbuhan Ekonomi

Palembang, jurnalsumatra.com – Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia provinsi Sumatera Selatan dikantornya Jl. Jendral Sudirman yang dihadiri perwakilan kepala daerah provinsi Sumatera Selatan, Kepala Instansi Vertikal di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, Kepala Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Para Pimpinan Perbankan dan Korporasi Non-Bank, Para Akademisi, Pengamat Ekonomi, Pemimpin Media Serta Undangan lain dalam acara memperkuat momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan.

Dalam kata sambutan nya Rudy Hairudin selaku Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan mengatakan pada tahun 2017 adalah tahun pemulihan ekonomi global, dengan bangkitnya momentum pemulihan ekonomi global setelah menyentuh titik terendah dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016.

Dikatakannya, pada tahun ini, diperkirakan dapat tumbuh hingga 3,6% (yoy) lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada awal tahun maupun capaian tahun sebelumnya dengan mencatat ada sumber pertumbuhan ekonomi global yang lebih merata, dimana motor pertumbuhan ekonomi dunia tidak hanya bersumber dari Negara maju, namun juga dari negara berkembang.

Sementara di negara maju, perkembangan sampai triwulan III 2017 mengonfirmasi berlanjutnya proses perbaikan ekonomi  AS  yang didukung membaiknya kondisi tenaga kerja dan investasi. Ekonomi Eropa dan Jepang juga mengindikasikan berlanjutnya proses pemulihan ekonomi.

Pemulihan ekonomi negara berkembang seperti kinerja ekonomi India tercatat melemah akibat kebijakan dan permasalahan domestik. Hilangnya dampak demonetisasi dan implementasi Goods and Service Tax (GST) mulai terlihat, ditunjukkan oleh peningkatan Purchasing Managers Index (PMI).

Lebih lanjut dikatakakannya, sedangkan Tiongkok, sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia dan mitra dagang utama Indonesia terhindar dari risiko penurunan laju pertumbuhan ekonomi secaradrastis dengan memfokuskan pertumbuhan pada permintaan domestik. Strategi ini juga dipadukan dengan berbagai kebijakan lain untuk mengurangi kerentanan sektor keuangan dan tekanan capital outflows termasuk melalui relaksasi aturan investasi asing, dan kebijakan structural. Dengan bauran kebijakan tersebut, ekonomi Tiongkok diperkirakan mampu tumbuh 6,8% pada 2017.

Menurutnya, Nilai tukar rupiah relatif stabil di tengah meningkatnya tekanan dari eksternal sejak akhir September 2017 yang dipicu oleh penguatan mata uang  dolar AS secara global. Secara rata-rata tahunan, rupiah sampai Oktober 2017 hanya terdepresiasi sekitar 0,36% dengan  volatilitas yang terjaga di level 3,2% (ytd), lebih rendah dari negara peers. Hal ini tidak lepas dari persepsi positif investor terhadap risiko investasi di Indonesia.

Di samping itu, stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga di tengah intermediasi perbankan yang masih belum sepenuhnya pulih. Resiliensi industri perbankan masih kuat ditopang oleh  kecukupan  modal yang tinggi dan likuiditas yang memadai.

Meski demikian, fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya pulih seperti yang diharapkan. Kredit tahun 2017 diperkirakan tumbuh sekitar 8%, membaik dari pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 7,86% namun lebih rendah dari perkiraan kami pada awal tahun.

“Lambatnya pertumbuhan kredit tersebut disebabkan tidak hanya oleh masih terbatasnya permintaan kredit akibat dari strategi konsolidasi yang ditempuh dunia usaha, namun juga  permasalahan suplai kredit akibat perilaku bank yang masih selektif dalam memberikan kredit baru. Sejalan dengan intermediasi bank terbatas, risiko kredit  perbankan cenderung naik meski masih jauh di bawah batas aman NPL.” pungkasnya (edchan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + 9 =