“Biota” Sensus Burung Air Di Dua Lokasi

     Gorontalo, jurnalsumatra.com – Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), sebuah perkumpulan yang bergerak pada kampanye keanekaragaman hayati, melakukan sensus burung air di dua lokasi, yakni Danau Limboto dan Persawahan Libuo.
Sekretaris BIOTA, Rosyid Azhar di Gorontalo, Selasa, mengatakan dua lokasi tersebut dipilih karena merupakan habitat dan persinggahan burung air sepanjang tahun.
Pengamatan burung air bertujuan untuk menghitung keragaman dan ancaman yang dihadapi masing-masing spesies burung air.
Di Danau Limboto, terdapat jenis burung air Trinil Kaki-hijau (Tringa nebularia), Gagang Bayam Belang (Himantopus leucocephalus), Itik Benjut (Anas gibberifrons)dan Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
Sedangkan di area persawahan Libuo, Kota Gorontalo ditemukan 15 jenis burung yang sebagian merupakan burung air seperti Blekok Sawah (Ardeola speciosa), Trinil Pantai (Actitis hypoleucos) dan Kuntul Kecil.
Pencatatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan “Asian Waterbird Census 2018” yang akan dikoordinasi “Wetlands International Indonesia” serta didukung oleh Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya dan “National Geographic Society”.

      Sebelumnya, Kepala Program Wetlands International Indonesia yang juga merupakan Koordinator Nasional Asian Waterbird Census mengatakan, prakarsa ilmu pengetahuan warga yang bersifat sukarela tersebut sebelumnya telah berhasil mengumpulkan rangkaian data dan informasi yang masif, tidak kurang dari 2,4 juta catatan.
Selain itu, terkumpul juga informasi mengenai kondisi terkini dan ancaman yang dihadapi oleh lahan basah yang merupakan habitat burung air.
“Data tersebut tertuang dalam Jurnal “Nature” yang terbit pada 20 Desember 2017. Data dan informasi tersebut juga didukung oleh para sukarelawan pengamat burung yang berasal dari Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa para sukarelawan, baik individu, anggota kelompok pengamat burung, akademisi, pegawai swasta maupun aparat pemerintah, telah terlibat dalam kegiatan “Asian Waterbird Census” sejak pertama kali diluncurkan sekitar 30 tahun yang lalu.
Sementara itu Koordinator Pelaksana Asian Waterbird Census Indonesia Ragil Satriyo Gumilang menyampaikan, pada sensus tahun 2016, sebanyak 78 lokasi di 17 provinsi telah berhasil disurvei oleh 160 pengamat yang berasal dari 40 organisasi serta individu di Indonesia.
Sekitar 30.000 ekor burung air dari 88 jenis atau sekitar 45 persen jenis burung air di Indonesia berhasil diamati, termasuk 25 jenis yang dilindungi.
Selain itu, teridentifikasi pula sebanyak 20 jenis ancaman yang mengancam kelangsungan hidup burung air tersebut.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − 5 =