BKSDA Lahat Tidak Berani Jamin Aman

Lahat , jurnalsumatra.com – Faktor utama mengundang hewan buas ini turun kepemukiman padat penduduk dan melakukan penyerangan terhadap masyarakat, dan hewan ternak milik warga, tidak bisa dipungkiri penyebabnya banyak kemungkinan. Namun, factur utamanya akibat kerapnya penebangan Hutan dan perburuan Satwa Liar.

“Benar banyak kemungkinan. Akan tetapi, satu hal yang harus menjadi pikiran bersama stop lah untuk melakukan penebangan hutan serta perburuan satwa liar. Sebab, selain merusak habitat dan juga menganggu rantai makanan satwa didalam kawasan Hutan Lindung. Mari bersama sama kita jaga Hutan,” ungkap Kasi balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) Kabupaten Lahat, Martalis Shut didampingi anggota Polhut Rahmat SH, Rabu (4/12/2019).

Untuk diketahui, diuraikannya, berdasarkan peta wilayah ada dua kantong. Pertama bukit dingin terdiri Lahat, Kota Pagar Alam, dan Kabupaten Empat Lawang. Kedua dari Jambul Patah, Lahat, Pagaralam, Muara Enim, Muara Dua, Batu Raja yang dibawah pengawasan Dinas Provinsi Sum-Sel.

“Sehingga, rasa cemas yang dirasakan warga Lahat, Pagaralam, Kecamatan Tanjung Sakti PUMI akibat serangan Harimau belakangan. Memang menjadi perhatian kita. Namun, ini dalam wilayah Hutan Lindung (HL). Jadi, kami BKSDA Lahat tidak berani jamin status aman,” pesan Martalis.

Ia mengungkapkan, pertama terdeteksi Harimau tersebut, berada di Pendopo Kabupaten Empat Lawang dalam hutan lindung (HL) tepatnya di Talang Ayek Genting tanggal 22 Agustus 2019 ada dua ekor. Lalu, bergeser lagi tanggal 13 November 2019 berada di Talang Tinggi 139 m dari batas Hutan Lindung.

“Kembali terdeteksi tanggal 15 November 2019 meraong raong didusun Marga Mulia. Sekitar pukul 15.00 WIB timbul lagi di Paralayang area Gunung Dempo masuk dalam Hutan Lindung. Selanjutnya, sekitar pukul 17.30 WIB warga melihat hewan buas ini bersantai sampai setengah jam,” cetus Martalis.

Berlanjut, ditegaskannya, sekitar jam 20.30 WIB, Sleman Juru Kunci mendengar teriakan Irfan yang berkema. Tanggal 16 November pihaknya mendapatkan informasi dari warga ada Harimau di Desa Janang.

“Informasi kita dapat hewan buas tersebut, turun tak jauh dari pemukiman warga sekitar pukul 16.30 WIB. Terakhir, sebelum menelan korban jiwa Harimau ini diketahui telah menyantap anak kambing milik warga Desa Pulau Panas Kecamatan Tanjung Sakti PUMI Lahat,” urainya lugas.

Tidak sampai disitu saja, ditambahkan Rahmat, pada Minggu di Desa Pulau Panas BKSDA Lahat menduga ada Harimau yang berbeda. Karena, berdasarkan alibi waktu, penyerang terhadap korban Kuswanto. dan saat tim terjun kelokasi menemukan kayu gelondongan berdiameter 50 cm.

“Di TKP juga ditemukan ada mesin Shinsu dan nasi bungkus sisa korban Kuswanto. Senin tanggal 28 November 2019 Harimau tersebut terpantau memakan ayam milik warga Kelurahan Rimba Candi dalam kawasan Hutan Lindung. dan terakhir Senin 2 Desember 2019 menerkam Marta Rulani (24) warga Tebat Benawa Dempo Selatan, Kota Pagar Alam,” terangnya.

Tidak dipungkiri, diungkapkan Rahmat, BKSDA Kabupaten Lahat, tidak bisa berbuat banyak apalagi diketahui aksi serangan Harimau itu, masih masuk dalam kawasan Hutan Lindung. di Lahat yang berhak Konservasi Penggelolahan Hutan (KPH) dibawa Dinas Hutan Provinsi Sum-Sel.

“Setiap hari selama dua minggu tim bergerak melakukan penelitian. Akan tetapi, lagi lagi jejak yang ada dilakasi masuk dalam kawasan hutan lindung. Sehingga, BKSDA Lahat tidak bisa mengambil tindakan. Sebab, yang berhak dari pihak KPH,” imbuh Rahmat.

Adanya dugaan Harimau terusik, diuraikan Martalis, akibat aktifitas penambangan kayu ilegal ditambah kerasnya suara Shinsu membuat suasana menjadi bising dan Harimau itu merasa habitatnya mulai terancam, sehingga, melakukan penyerangan.

“Nah, selama dua minggu tim mencari fakta dilokasi. dan menemukan hasil potongan kayu dan tidak jauh dari kepingan papan yang TKP nya dalam kawasan Hutan Lindung. Oleh sebab itu, BKSDA Lahat memasang Camera Traff dibeberapa titik mulai di Dempo dan Desa Pulau Panas. Kami juga menghimbau agar tidak lagi ada aksi pembalakan liar agar hewan dan habitat lainnya tidak merasa terusik,” himbau Martalis dengan lantang. (Din)