BMKG: Puncak Musim Hujan Di Jateng Bagian Selatan Februari-Maret

Cilacap, jurnalsumatra.com – Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah (Jateng) bagian Selatan diprakirakan akan berlangsung pada bulan Februari-Maret 2020, kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo.

  “Berdasarkan peta pemutakhiran puncak musim hujan 2019-2020 di Jawa Tengah yang dikeluarkan BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, hanya sebagian kecil wilayah Jateng bagian Selatan yang puncak musim hujannya diprakirakan pada bulan Januari, daerah lainnya pada bulan Februari-Maret,” katanya di Cilacap, Rabu.

  Ia mengemukakan berdasarkan peta tersebut, wilayah Jateng bagian Selatan yang diprakirakan memasuki puncak musim hujan pada bulan Januari, yakni sebagian Kabupaten Purworejo sebelah Timur.

  Sementara wilayah Jateng bagian Selatan yang diprakirakan akan memasuki puncak musim hujan pada bulan Februari, yakni wilayah tengah Kabupaten Cilacap, sebagian kecil wilayah Banyumas sebelah Barat Daya dan sebagian kecil wilayah Utara terutama sekitar Gunung Slamet, sebagian kecil wilayah Purbalingga sebelah Barat laut terutama sekitar Gunung Slamet, Banjarnegara bagian Timur, sebagian Kebumen sebelah Utara, sebagian besar Wonosobo, dan sebagian kecil Purworejo sebelah Utara.

  “Selebihnya diprakirakan akan memasuki puncak musim hujan pada bulan Maret, yakni sebagian besar wilayah Cilacap, sebagian besar Banyumas, sebagian besar Purbalingga, Banjarnegara bagian Barat-Barat Laut, sebagian besar Kebumen, sebagian kecil Wonosobo bagian Tenggara, dan sebagian besar Purworejo,” katanya.   

  Lebih lanjut, Teguh mengatakan berdasarkan pemutakhiran data pemantauan awal musim hujan 2019-2020, di wilayah Jateng bagain Selatan terdapat beberapa daerah yang belum memasuki awal musim hujan pada dasarian (10 hari, red.) pertama bulan Desember.

  Menurut dia, wilayah yang belum memasuki awal musim hujan pada dasarian pertama bulan Desember di antaranya Cilacap bagian Selatan, sebagian Kebumen wilayah Selatan-Tenggara, dan Purworejo bagian Selatan.

  “Suatu wilayah dikatakan telah memasuki musim hujan jika curah hujannya selama tiga dasarian berturut-turut telah mencapai minimal 50 milimeter per dasarian,” katanya.

  Dia mencontohkan jika curah hujan pada dasarian kedua bulan November sudah mencapai 50 milimeter, dasarian ketiga bulan November kurang dari 50 milimeter, dan dasarian pertama bulan Desember mencapai 50 milimeter, maka dasarian kedua bulan November belum bisa dikatakan sebagai awal musim hujan.

  “Jika curah hujan dalam tiga dasarian berturut-turut mencapai minimal 50 milimeter per dasarian, dasarian yang pertama mencapai 50 milimeter itu yang disebut sebagai awal musim hujan,” tambah Teguh.(anjas)