BMKG: Tingkatkan Kemampuan Mitigasi Gempa

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan masyarakat perlu memahami dan meningkatkan mitigasi gempa untuk membangun ketahanan dalam menghadapi bencana karena tinggal di wilayah rawan gempa.
“Masyarakat harus menyadari bahwa mau tidak mau, suka tidak suka kita tinggal di daerah yang rawan gempa sehingga kita harus meningkatkan kapasitas pemahaman gempa bumi dan memiliki iImu mitigasi,” kata Daryono saat dihubungi Antara, Jakarta, Jumat.
Dia menuturkan masyarakat harus mengetahui kiat-kiat dalam menghadapi gempa ketika bencana itu terjadi.
Masyarakat juga perlu merencanakan bangunan yang tahan gempa agar meminimalkan korban gempa yang dapat meninggal akibat reruntuhan bangunan saat diguncang gempa.
“Kalau tidak mampu membangun bangunan tahan gempa, ya bangunlah bangunan rumah dari kayu dan bambu yang menarik sehingga tidak menimbulkan korban,” ujarnya.
Pondasi dan bangunan rumah yang tidak kokoh atau rentan rusak ketika diguncang, misalnya karena adukan semen yang tidak sesuai akibat tidak cukup biaya dapat membawa malapetaka bagi penghuninya.

     “Kalau asal punya uang sedikit gengsi tidak mau buat rumah tahan gempa, tapi bangun rumah tembok tapi adukan semen jelek, semennya ngirit, kemudian besi tulangnya tidak ada itu jadi alat pembunuh bagi penghuni yang tinggal di dalamnya,” jelasnya.
Sebelumnya, BMKG mencatat telah terjadi 451 kali gempa bumi susulan hingga pukul 08.00 WITAang melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat hingga pukul 08.00 WITA pascagempa 7,0 SR pada Minggu (5/8) malam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Kamis (9/8) pukul 17.00 WIB memverifikasi jumlah korban meninggal dunia akibat gempa tektonik 7 Skala Richter (SR) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 259 orang.
Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Ribuan warga mengungsi ke tempat yang aman.
Daerah yang terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, dan Kota Mataram.
“Tiga hingga empat minggu ke depan gempa kecil masih akan terjadi. Kita harus menerimanya, ini proses alam,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *