BNNP Musnahkan Ribuan Gram Sabu Dan Ekstasi

Palembang, jurnalsumatra.com – Selasa (8/5/2018) anggota bidang pemberantasab Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumsel melakukan penyelidikan dan menindaklanjuti imformasi dari masyarakat di darah Muara Telanf Kabupaten Banyuasin JalanTanjung Siapi-Api tentang adanya tindak pidana oenyalahgunaan narkotika.

Selanjutnya, Rabu (9/5/2018) pukul 06.00 WIB tim melakukan penangkapan terjadap Iskandar dan kawan-kawan di pinggir Jalan TAA Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin. Saat itu, Iskandar sedang mengendarai mobil merek Toyota Calya dengan Nopol B 1262 UIK warna merah menuju Palembang. Tersangka Iskandar membawa barang atau paket yang diduga narkotika jenis sabu sebanyak 3 bumgkus besar bertuliskan huruf Cina GUANYINWANg dengan berat 2.2991,25 gram dan 5 bungkus kacang yang berisi 5000 pil ekstasi dengan netto 1.511,54 gram yang disimpan dimobil.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi  Brigjen Pol Drs Jhon Turman P dalam pemusnahan barang bukti di Kantor BNNP Sumsel, Rabu (6/6/2018).

Jhon Turman P mengatakan, menurut keterangan tersangka Iskandar barang bukti narkotika sabu dan ekstasi tersebut diperoleh dari seseorang warga Batam bernama Hendra Wijaya (alm). Tersangka Iskandar disuruh M Yusuf alias Jon sebagai perantara jual beli narkoba jenis sabu di Jalan TAA.

“Menurut keterangan Iskandar sudah 2 kali jadi perantara jual beli narkotika. Menurut keterangan tersangka Iskandar barang bukti narkotika diserahkan kepada Davit Haryono alias Ono di Kota Lubuk Linggau,” katanya.

Selain Iskandar, lanjut Jhon, juga diamankan Heni Restiawati, Peri Haryanto, Subhan alias Ojing dan Davit Haryono.

Jhon menjelaskan, per3daran narkotika ini dikendalikan dari Lapas Muara Enim atas nama Davit Haryono alias Ono.

“Davit Haryono adalah yang menggerakan orang lain di Muara Beliti. Ono yang mengendalikan Y dan A. Kita akan terus selidiki kasus ini,” ucapnya.

Menurut Jhon,  didalam sel pihaknya mendapatkan data, kalau Ono tahanan pendamping (Tamping). Sehingga dia sangat dengan sipir dan bisa dengan leluasa melakukan apa saja.

“Kita sarankan ke kakanwil Kemenkumham agar Tamping ini ditiadakan. Karena setiap hari Yampung berhadapan dengan sipir. Karena dekat dng sipir. Tamping ini diberikan keluluasaan pengendalian di lapas. Kalau masih ada tamping si laas, narkoba masih akan terus beredar di lapas.Ini bukti dan fakta yang ada,” pungkasnya. (Yanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − five =